Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Hikmah Anak Laki-laki Seorang Nabi

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlih Dijelaskan oleh guru kami, dan beliau mendapatkan hikmah ini dari guru beliau, bahwa para Nabi yang memiliki anak laki-laki pasti di antara mereka ada yang menjadi Nabi. Misal Nabi Ismail a.s dan Ishaq a.s yang merupakan putra Nabi Ibrahim a.s. Dan Nabi Yusuf a.s yang merupakan putra Nabi Ya'qub a.s. Oleh karena itulah mengapa putra-putra Nabi Ya'qub a.s cemburu terhadap Nabi Yusuf a.s, terlebih tatkala mengetahui tentang apa yang Nabi Yusuf a.s dapatkan dalam mimpinya. Sehingga mereka berfirasat bahwasanya Nabi Yusuf a.s ini bukanlah manusia biasa.  Karena mereka sangat paham bahwa di antara putra para Nabi pasti akan ada yang menjadi Nabi, begitu juga dengan putra-putra Nabi Ya'qub a.s. Sehingga mereka berlomba-lomba menjadi yang terpilih. Hingga para ulama sampai pada kesimpulan bahwa hikmah dari tidak adanya putra Nabi Muhammad s.a.w yang hidup sampai dewasanya, karena untuk menjaga kemuliaan...

Kaidah Menulis Bilangan Angka Dalam Bahasa Arab

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallaahu 'alaihi wa ahlih Bismillaah walhamdulillaah wa shalallaahu 'ala la sayyidina Mu h ammadin Telah mafhum dalam bahasa Arab dikenal pembagian kata berdasar jumlahnya sebagai berikut : 1. Mufrad (tunggal) , yaitu kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah satu. Contoh : عَالِمٌ (satu orang berilmu laki-laki), غُرْفَةٌ (sebuah ruangan). 2. Mutsanna (ganda) , yaitu kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah ganda. Dengan ciri-cirinya adanya penambahan ا dan ن atau ي dan ن pada akhir kata. Contoh : عَالِمَانِ (dua orang berilmu laki-laki), غُرْفَتَانِ ( dua ruangan) 3. Jama' (banyak) , kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah 3 atau lebih. Contoh : العُلَمَاء (orang-orang berilmu laki-laki), غُرَفٌ (banyak ruangan) Disamping itu telah mafhum juga bahwa kata di dalam bahasa Arab berdasar jenis atau sifat 'kelamin'-nya terbagi menjadi dua, yaitu : 1. Mudzakkar , menunjukkan bersifat laki-laki. 2. Muanna...

KITAB KHULASHAH TA'ZHIMUL 'ILM : Ikhlasnya Niat dalam Ilmu (3)

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi Simpul Ke – 2 : Ikhlasnya Niat dalam Ilmu Sesungguhnya ikhlasnya amal adalah pondasi diterimanya dan tangga untuk terangkatnya (amal kepada Allah). Allah berfirman, وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ “Padahal tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, memurnikan seluruh ibadah untuk-Nya, sebagai orang-orang yang hanif.” (QS. Al Bayyinah : 5) Dan dalam shahihain, dari Umar radhialllaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan itu berdasar NIAT-nya. Dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang diniatkan.” Semua yang telah berlalu dan semua yang sampai dari keutamaan pada salafush-shalih, itu semua karena perkara keikhlasan (mereka) kepada Allah rabbil ‘aalamiin. Berkata Abu Bakr Al Marrudzi rahimahullah, “Aku mendengar seseorang berkata kepada Abu Abdillah, yakni Ahmad bin Hanbal...

KITAB KHULASHAH TA'ZHIMUL 'ILM : Penyucian Wadah Ilmu (2)

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi Simpul Pertama : Penyucian Wadah Ilmu Wadah ilmu adalah HATI.  Ilmu itu masuk sesuai dengan kadar kesucian hati. Makin bertambah kesucian hati, makin bertambah pula penerimaannya atas ilmu. Maka barangsiapa yang menginginkan tergapainya ilmu, hendaklah dia perindah batinnya/ hatinya. Dan dia sucikan hatinya dari segala kenajisannya. Para salaf pada zaman dahulu adalah orang-orang yang paling perhatian terhadap (keadaan) hatinya, bukan sekedar memperhatikan keadaan amalan zhahirnya. Mereka justru paling enggan amalan zhahir itu terlihat oleh orang lain. Hendaknya kita senantiasa intropeksi terhadap keadaan hati kita. Adakah penyakit-penyakit disitu? Adakah penyakit sudah merasa pintar? Adakah penyakit sudah merasa hebat? Adakah penyakit meremehkan orang lain? Adakah penyakit riya? Sudahkah kita ikhlas? Maka hal-hal tersebut terlebih dahuu yang peru dibersihkan. Karena barang siapa yang membersihk...

KITAB KHULASHAH TA'ZHIMUL 'ILM : Muqaddimah (1)

Penulis : A Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi MUQADDIMAH Bismillaahirrahmaanirraahiim Penulis memulai kitab dengan basmalah, hal ini mencontoh sunnah Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam dalam surat-suratnya yang dikirim kepada raja-raja. Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang diagungkan dengan tauhid. Penulis mensifati Allah ta’ala, dimana Allah subhaanahu wa ta’ala di-agung-kan dengan TAUHID. Artinya tanpa tauhid, Allah subhaanahu wa ta’ala tidak akan bisa diagungkan sebagaimana mestinya. Dan setiap amalan yang kita niatkan, apapun itu, maka tanpa tauhid tidak akan bernilai di sisi Allah subhaanahu wa ta’ala. Meskipun kita ingin mengagungkan Allah ta’ala tanpa adanya tauhid, maka itu tidak akan terhitung di sisi Allah ta’ala. Dan shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Muhammad, hamba dan utusan-Nya dengan kemuliaan yang paling mulia. Dan atas keluarganya juga para sahabatnya, yang diberikan keutamaan dan kelurusan. Semua hal ini, y...