Langsung ke konten utama

Kaidah Menulis Bilangan Angka Dalam Bahasa Arab

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallaahu 'alaihi wa ahlih

Bismillaah walhamdulillaah wa shalallaahu 'ala la sayyidina Muhammadin

Telah mafhum dalam bahasa Arab dikenal pembagian kata berdasar jumlahnya sebagai berikut :

1. Mufrad (tunggal), yaitu kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah satu.
Contoh : عَالِمٌ (satu orang berilmu laki-laki), غُرْفَةٌ (sebuah ruangan).

2. Mutsanna (ganda), yaitu kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah ganda. Dengan ciri-cirinya adanya penambahan ا dan ن atau ي dan ن pada akhir kata.
Contoh : عَالِمَانِ (dua orang berilmu laki-laki), غُرْفَتَانِ ( dua ruangan)

3. Jama' (banyak), kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah 3 atau lebih.
Contoh : العُلَمَاء (orang-orang berilmu laki-laki), غُرَفٌ (banyak ruangan)

Disamping itu telah mafhum juga bahwa kata di dalam bahasa Arab berdasar jenis atau sifat 'kelamin'-nya terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Mudzakkar, menunjukkan bersifat laki-laki.
2. Muannats, menunjukkan bersifat perempuan. Biasanya mempunyai ciri-ciri : kata tersebut diakhiri dengan ة (ta' marbuthah), kata tersebut diakhiri dengan ت (ta' ta'nits)

Setelah kita paham dua macam pembagian kata dalam bahasa Arab di atas, maka insyaallaah dapat kita pahami bagaimana kita menuliskan jumlah bilangan atas sesuatu di dalam bahasa Arab. Dan terdapat kaidah yang akan dibahas disini.

Kaidah Pertama :
Dalam penulisan bilangan angka perlu diketahui jumlah bilangan yang akan disebutkan. Dan dalam hal ini terbagi ke dalam empat kategori, yaitu :
- Apabila jumlahnya hanya satu
- Apabila jumlahnya dua
- Apabila jumlahnya tiga sampai dengan sepuluh
- Apabila jumlahnya lebih dari sepuluh

Untuk bilangan yang jumlah hanya satu dan dua, insyaallaah telah jelas dengan pemaparan pembagian kata pada awal penulisan. Bagaimana jika bilangannya tiga sampai sepuluh atau lebih, maka ini yang akan dibahas pada kaidah selanjutnya.

Kaidah Kedua :
Kita harus mengenal terlebih dahulu saat kata itu sebagai mufrad dia berjenis apa? Apakah mudzakkar atau muannats.
Sebagaimana contoh :
عَالِمٌ menunjukkan jenis mudzakkar (laki-laki)
غُرْفَةٌ menunjukkan jenis muannats (perempuan)

Setelah mengerti dua kaidah diatas, maka kita menuju pada kaidah kuncinya sebagai berikut :

Kaidah Ketiga :
A. Menulis bilangan berjumlah tiga sampai dengan sepuluh.

Misal kita ingin menulis, "Tiga orang berilmu laki-laki."
Apabila telah kita ketahui saat kata itu tunggal dia berjenis mudzakkar, maka penulisan angkanya bersifat muannats dengan tanda adanya ة (ta' marbuthah), dan menuliskan 'orang berilmu' - nya menggunakan kata jama'. Sehingga penulisannya sebagai berikut :

ثَلَاثَةُ العُلَمَاء : tiga orang ulama

Kita lihat pada kata ثَلَاثَة diakhiri dengan ة (ta' marbuthah) disana.

Jika kita ingin menulis, "Tiga buah ruangan"
Kata 'ruangan' mufrad-nya bersifat muannats, yaitu غُرْفَةٌ (lihat ada ة disitu), maka penulisan angkanya bersifat mudzakkar. Dan penulisan 'ruangan' dengan jama'. Sehingga penulisannya sebagai berikut :

ثَلَثُ غُرَفٌ : tiga buah ruangan.

B. Menulis bilangan dengan jumlah lebih dari 10

Misal kita ingin menulis, "Sebelas orang berilmu laki-laki".

Maka perhatikan, kata 'orang berilmu laki-laki' berubah menggunakan jenis mufrad, bukan jama'. Sehingga penulisannya sebagai berikut :

أَحَدَ عَشَرَ عَالِمٌ : sebelas orang ulama laki-laki.

Dan misal akan menulis, "Sebelas ruangan", maka penulisannya sebagai berikut :

أَحَدَ عَشَرَ غُرْفَةٌ : sebelas ruangan

PERHATIKAN PERUBAHAN pada kata عالم dan غرفة, semuanya berubah menjadi MUFRAD.

Contoh-contoh lain :

أَرْبَعَة أبْوَابُ : empat buah pintu

'Empat' ditulis dengan sifat muannats dan 'pintu' ditulis dengan jama'. Karena kata 'pintu' jika dia mufrad maka sifatnya mudzakkar, yaitu بَابٌ

خَمسُ النساء : lima orang perempuan
خمسة عشرة مسلم : lima belas orang muslim

Wallaahu a'lam bish shawwab..

====================

Faidah diambil dari Kajian Pelajaran Al 'Arabiya bayna Yadaik, pengajar : Al Ustadz Muhammad Rivaldi (pengampu Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...