Langsung ke konten utama

Postingan

NUTRISI UNTUK JASAD DAN RUH

Postingan terbaru

ENAM UNSUR POKOK TEGAK DAN STABIL SUATU NEGARA

Al-Imam al-Mawardi berkata: "Ada enam faktor untuk menjadikan dunia menjadi aman dan tenteram, yaitu : agama, pemimpin yang kuat, keadilan yang menyebar, keamanan yang merata, kesuburan tanaman, dan semangat tinggi." 1. Agama (الدِّين) Agama adalah fondasi moral, karakter, dan integritas masyarakat. Agama memberikan aturan halal–haram, etika bermuamalah, serta pengendalian diri. Masyarakat tanpa agama mudah terpecah, tidak punya panduan moral, dan akan sangat mudah dikendalikan oleh hawa nafsu. 2. Pemimpin yang Kuat / Berwibawa (سُلْطَانٌ قَاهِرٌ) Yang dimaksud bukan pemimpin otoriter, tetapi pemimpin yang berwibawa, memegang otoritas, mampu menegakkan hukum, tidak mudah ditekan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Tanpa pemimpin yang kuat, kekacauan (fawḍa) akan muncul karena tidak ada yang mampu menjaga keteraturan dan keadilan. 3. Keadilan yang Menyebar (عَدْلٌ شَامِلٌ) Keadilan yang tidak hanya untuk kelompok tertentu, tetapi berlaku untuk semua : - adil dalam hukum, - ...

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Orang Yahudi dan Nasrani Saling Berbantahan bahwa Nabi Ibrahim itu Berada di atas Agama Mereka Masing-masing, Begini Jawaban Menohok dari Allah

Ada ayat yang terdapat di dalam Al Quran yang memberikan jawaban menohok kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika mereka saling berbantah-bantahan mengenai status keagamaan Nabi Ibrahim apakah dia berada di atas agama Yahudi atau Nasrani. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Yahudi, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Nasrani. Maka Allah membantah mereka dengan bantahan yang menohok dengan turunnya ayat 65 - 67 dari surat Ali Imran : يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لِمَ تُحَآجُّونَ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوْرَىٰةُ وَٱلْإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعْدِهِۦٓ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu saling bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?" هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ "Begi...

The Real Thalibul Ilmi

Ilmu lebih berharga dibandingkan harta Ketika seseorang memiliki ilmu, maka ilmu akan menjaga dirinya. Namun jika yang dikumpulkan hanya harta, maka akan semakin menyibukkan seseorang itu untuk menjaga hartanya. Nabi saw di setiap paginya memanjatkan doa,  اللهم إن أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا "Allaahumma inni as-aluka 'ilman nafi'an wa rizqan thayyiban wa 'amalan mutaqabbaalan" Artinya : "Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima." Yang dikedepankan oleh Nabi saw adalah adalah permintaan ilmu yang bermanfaat, karena rezeki tidak akan menjadi baik kecuali dengan didasari ilmu yang baik.  Dan seseorang tidak akan tahu mana amalan yang diterima dan baik di sisi Allah SWT. Imam Asy Syafi'i pernah berkata, "Barang siapa yang menginginkan kebaikan di dunianya, maka ilmu yang harus dituntut. Dan barang siapa yang menginignkan kebaikan akhiratnya maka ilmu yang harus dituntut." Dan ju...

Doa Agar Jiwa Manusia Diberi Ketakwaan Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala

Dalam Tafsir Ibnu Katsir pada surat Asy Syams ayat ke 8 dijelaskan sebagai berikut : Imam Thabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Usman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bila bacaannya sampai pada ayat ini, yaitu firman-Nya:  وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Asy-Syams: 7-8)  Maka beliau Saw. menghentikan bacaannya, lalu berdoa: اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، وَخَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا "Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, Engkau adalah Yang Memiliki dan Yang Menguasainya, dan (Engkau) adalah sebaik-baik yang menyucikannya." Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah mencerit...