Langsung ke konten utama

NUTRISI UNTUK JASAD DAN RUH

Manusia terdiri dari dua komponen utama, yaitu jasad dan ruh. Masing-masing dari keduanya membutuhkan asupan nutrisi.

Sebagaimana jasad yang membutuhkan makanan sebagai nutrisi untuk menjaga kesehatan, begitu pula ruh membutuhkan nasihat atau ilmu sebagai nutrisi.

Dan sebagaimana pula makanan ada yang baik untuk kesehatan, namun ada pula yang memberi pengaruh buruk pada kesehatan jasad manusia. Begitu pula ruh, ketika yang masuk adalah nasihat yang buruk maka bisa mempengaruhi menjadi jiwa yang buruk. Dan ketika nutrisi yang masuk untuk ruh adalah nasihat kebaikan, nasihat ilmu agama, maka akan menjadi baik pula jiwa seseorang.

Dan jasad apabila dibiarkan sampai kelaparan, ketika diisi makanan, jika orang tersebut memiliki gangguan asam lambung, maka makanan itu akan tertolak masuk. Dia merasa mual dan ingin memuntahkan makanan tersebut.

Begitu pula ruh, ketika terlalu lama tidak diberi asupan nutrisi yang "bergizi tinggi", maka sekalinya diberi asupan gizi tinggi, maka dia berpotensi memuntahkan kembali asupan tersebut. Karena saking-saking tidak pernah diberi asupan tersebut sehingga merasa asing. Itu lah yang bisa terjadi kepada ruh kita, jika kita jarang-jarang atau bahkan tidak pernah memberikan asupan nutrisi yang baik. Hal ini seperti orang yang menolak nasihat agama ketika dia sedang berhadapan pada suatu masalah. Wal-iyya dzubillah.

Maka sebaiknya manusia segera sadar akan kebutuhan ruhnya kepada nasihat atau ilmu agama yang lurus, yang mampu menjadikan ia dalam menjalani hidupnya penuh dengan rasa syukur dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Apa yang terjadi kepada manusia yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan upaya bunuh diri misalnya, wal iyya dzubillaah. Apakah beban hidupnya betul diatas batas kemampuannya? Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.."

Secara global makna ayat diatas adalah bahwa tidak mungkin manusia itu diberi ujian yang tidak mampu dipikul atau diselesaikan olehnya.

Namun mengapa ada manusia yang bunuh diri? Apakah bebannya di luar batas kemampuannya?

Analoginya demikian, sebuah truk yang mempunyai kapasitas angkut sebanyak 200 ton. Secara logika jika beban yang dibawa masih dibawah 200 ton, maka truk itu seharusnya masih bisa membawanya. Namun mengapa truk tersebut ketika diberi beban 150 ton, yang notabene masih dibawah kapasitas maksimalnya, truk itu malahan mogok? Ketika ditanyakan kepada sang sopir dijawab, "Biasa mas kurang diservis."

"Kurang diservis", itu penyebabnya. Sebuah benda untuk bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya perlu diservis agar segala sesuatu berjalan lancar. Maka bagaimana dengan manusia, khususnya ruh manusia? Ruh butuh di-"servis" juga. Bagaimana men-'servis" ruh?

Yaitu dengan secara rutin memberi asupan kepada ruh, nasihat dan ilmu agama.

Jadi yang terjadi pada orang yang bunuh diri terebut adalah ruh-nya sangat kurang di-"servis". Kurang akan nasihat agama yang mampu membawanya teguh di atas jalan yang lurus.

Jangan terlambat untuk memberi asupan gizi yang baik bagi ruh kita. Kalau jasad butuh makan setiap hari, maka begitu juga ruh. Beri dia asupan nutrisi terbaik, yaitu nasihat ilmu agama yang lurus.

Wallahu a'lam bish-shawwab..

__________________________________________________

Disarikan dari Kajian Ustadz Riyadh Ahmad - 11 Januari 2026

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...