Langsung ke konten utama

Nasihat, bukan Ghibah


Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata:

Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat).

Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu.

Abū Turāb An-Nakhshabī mengira bahwa membicarakan kondisi perawi adalah bentuk ghibah, karena menyebut kekurangan seseorang di belakangnya.

Tapi Imam Ahmad menegaskan bahwa ini adalah nasihah — yakni, bentuk tanggung jawab ilmiah demi menjaga agama, bukan untuk mencela pribadi seseorang.

Pelajaran yang Bisa Diambil:

1. Menjaga Ilmu: Dalam Islam, menjaga keaslian dan keotentikan ilmu (terutama hadis) adalah amanah besar. Ulama harus jujur tentang keilmuan dan keadilan para perawi.

2. Bedakan Ghibah dan Nasihah: Ghibah adalah membicarakan aib orang lain tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Tapi jika tujuannya untuk memperingatkan umat dari kesalahan atau bahaya yang nyata (dengan adab dan niat yang lurus), maka itu menjadi nasihat yang dibolehkan, bahkan diwajibkan.

3. Adab dalam Menyampaikan Kebenaran: Meskipun Imam Ahmad tegas, ia tetap menjawab dengan penjelasan, bukan dengan emosi.

Pelajaran dan Hikmah dari Kisah Imam Ahmad رحمه الله

1. Pentingnya Menjaga Keaslian Ilmu

Imam Ahmad memberi contoh bahwa ilmu agama — khususnya ilmu hadis — harus dijaga dari kesalahan, termasuk dengan menjelaskan siapa yang dapat dipercaya dan siapa yang tidak dalam meriwayatkan hadis.

2. Bedakan Antara Ghibah dan Nasihah

Ghibah (menggunjing) adalah membicarakan keburukan orang lain tanpa alasan yang syar’i.

Namun jika tujuannya untuk memperingatkan umat dari kesalahan atau bahaya (seperti dalam ilmu hadis, fatwa, atau memilih guru), maka itu menjadi nasihah, bukan ghibah.

3. Adab dalam Menyampaikan Kebenaran

Imam Ahmad menanggapi Abū Turāb dengan penjelasan, bukan marah. Ini mengajarkan pentingnya berdialog dengan adab ketika ada perbedaan pandangan.

4. Nasihat Ulama Harus Berdasarkan Ilmu dan Amanah

Menyampaikan kondisi perawi hadis bukan karena benci atau dendam, tetapi sebagai bentuk amanah keilmuan agar umat tidak tertipu oleh hadis yang lemah atau palsu.

5. Waspadai Sikap Terlalu Emosional dalam Menilai

Abū Turāb terburu-buru menilai bahwa Imam Ahmad sedang ghibah. Ini jadi pelajaran agar kita tidak cepat menyalahkan ulama tanpa memahami konteks dan ilmu mereka.

Postingan populer dari blog ini

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...