Langsung ke konten utama

SUKSES TANPA JALAN PINTAS MENYESATKAN


Ada salah seorang teman yang pernah bilang kepada saya: menurut si anu, bisnis kuliner itu tidak akan berhasil kalau tidak memakai pesugihan, harus pakai bantuan dukun katanya.

Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Padahal bukan hanya di bisnis kuliner saja. Di banyak jenis usaha, masih ada orang yang menempuh jalan seperti ini.

Dan kalau Allah sudah menakdirkan seseorang mendapatkan omset 10 juta sehari misalnya, maka tanpa bantuan dukun pun omset itu pasti akan datang. Tidak akan tertukar dan tidak akan meleset dari takdir yang telah Allah tetapkan.

Justru keberadaan dukun yang masuk ke dalam bisnis itulah yang bisa mengundang murka Allah, wal ‘iyaadzu billaah.

Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat keras tentang hal ini. Beliau bersabda:

“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”
(HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan perkataannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya)

Perhatikan ancamannya. Bukan perkara ringan.

Mungkin seseorang merasa senang dengan banyaknya harta yang ia dapatkan. Hidupnya terlihat lancar, usahanya berkembang, tidak ada masalah yang tampak.

Namun hati-hati dengan istidraj — yaitu ketika Allah membiarkan seseorang tenggelam dalam kenikmatan, padahal ia sedang berjalan menuju kebinasaan.

Kalau seseorang dibalas kesalahannya di dunia, kadang itu justru menjadi kebaikan baginya, karena ia bisa sadar dan kembali kepada Allah.

Namun kalau balasannya ditunda sampai di akhirat, Allaah ya Rabb… betapa beratnya nanti.

Jika seseorang mendatangi dukun lalu meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat, maka ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya besar di akhirat kelak.

Jangan pernah meremehkan perkara ini.

Iman kepada Yaumul Hisab (hari pembalasan) adalah bagian dari akidah dasar seorang muslim yang wajib diimani dan dipahami.

Maka bersabarlah, wahai ikhwah — termasuk juga nasihat untuk diri saya sendiri.

Nikmati prosesnya.
Syukuri berapa pun yang Allah berikan.

Kalau ingin mengeluh atau curhat, sampaikan saja kepada Allah. Kita tidak akan pernah rugi mengadu kepada-Nya. Bahkan kita justru akan mendapatkan pahala dari kesabaran itu, dalam bentuk apa pun yang Allah kehendaki.

Adapun kepada manusia, kadang lebih baik kita diam saja tentang masalah yang sedang kita hadapi.

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...