Langsung ke konten utama

ENAM UNSUR POKOK TEGAK DAN STABIL SUATU NEGARA

Al-Imam al-Mawardi berkata: "Ada enam faktor untuk menjadikan dunia menjadi aman dan tenteram, yaitu : agama, pemimpin yang kuat, keadilan yang menyebar, keamanan yang merata, kesuburan tanaman, dan semangat tinggi."
1. Agama (الدِّين)
Agama adalah fondasi moral, karakter, dan integritas masyarakat. Agama memberikan aturan halal–haram, etika bermuamalah, serta pengendalian diri.
Masyarakat tanpa agama mudah terpecah, tidak punya panduan moral, dan akan sangat mudah dikendalikan oleh hawa nafsu.
2. Pemimpin yang Kuat / Berwibawa (سُلْطَانٌ قَاهِرٌ)
Yang dimaksud bukan pemimpin otoriter, tetapi pemimpin yang berwibawa, memegang otoritas, mampu menegakkan hukum, tidak mudah ditekan oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Tanpa pemimpin yang kuat, kekacauan (fawḍa) akan muncul karena tidak ada yang mampu menjaga keteraturan dan keadilan.
3. Keadilan yang Menyebar (عَدْلٌ شَامِلٌ)
Keadilan yang tidak hanya untuk kelompok tertentu, tetapi berlaku untuk semua :
- adil dalam hukum,
- adil dalam ekonomi,
- adil dalam sosial,
- adil dalam distribusi peluang.
Keadilan yang merata menciptakan rasa aman, loyalitas rakyat, dan memperkuat legitimasi kekuasaan.
4. Keamanan yang Merata (أَمْنٌ عَامٌّ)
Keamanan yang dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya elite. Termasuk keamanan dari:
- kejahatan,
- penindasan,
- ketakutan ekonomi,
- ancaman kelompok.
Keamanan menciptakan stabilitas, memungkinkan aktivitas ekonomi, dan membuat manusia bisa hidup tenang dan produktif.
5. Kesuburan Tanaman / Kemakmuran Penghidupan (خِصْبٌ دَائِمٌ)
Yang dimaksud bukan hanya kesuburan tanah secara literal, tetapi ketersediaan sumber daya ekonomi :
- makanan,
- perdagangan,
- hasil bumi,
- stabilitas ekonomi negara.
Negeri yang subur ekonominya tidak cepat jatuh dalam krisis dan dapat menjaga kesejahteraan rakyat.
6. Semangat Tinggi / Harapan Kelangsungan Hidup (أَمَلٌ بَاقٍ)
Maknanya adalah :
- optimisme,
- etos kerja,
- keinginan untuk maju,
- cita-cita yang luhur.
Dalam bahasa lain: spirit kolektif masyarakat.
Negeri yang pesimis atau kehilangan harapan tidak dapat tumbuh. Semangat tinggi mendorong rakyat bekerja, belajar, berinovasi, dan bersabar menghadapi krisis.
Kesejahteraan masyarakat bukan hanya urusan dunia, tetapi juga spiritual. Al-Mawardi menggabungkan agama dan sosial-politik sebagai satu kesatuan.
Kepemimpinan yang kuat adalah syarat stabilitas. Bukan pemimpin yang represif, tapi yang mampu menegakkan hukum dan menahan tekanan kelompok yang memecah belah.
Keadilan adalah pilar terkokoh sebuah negara. Tanpa keadilan, keamanan dan loyalitas masyarakat akan runtuh. Al-Mawardi ingin menunjukkan: keadilan lebih penting dari kekayaan.
Keamanan adalah hak dasar manusia. Ia mendahului pembangunan, ekonomi, bahkan ilmu.
Ekonomi yang sehat adalah fondasi kestabilan sosial. Masyarakat lapar atau miskin lebih mudah bergejolak. Karena itu Islam memperhatikan distribusi harta dan zakat.
Harapan kolektif adalah energi sebuah bangsa. Jika rakyat optimis, produktif, punya orientasi masa depan, maka negara akan terus berkembang meski menghadapi krisis.
Keenam faktor ini harus hadir secara bersamaan. Keseimbangan adalah kata kunci. Negeri yang punya ekonomi kuat tetapi kehilangan keadilan—akan runtuh. Negeri yang religius tetapi tidak aman—akan kacau. Negeri yang makmur tetapi pesimis—akan stagnan.

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...