Langsung ke konten utama

KITAB KHULASHAH TA'ZHIMUL 'ILM : Penyucian Wadah Ilmu (2)

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi

Simpul Pertama : Penyucian Wadah Ilmu

Wadah ilmu adalah HATI.  Ilmu itu masuk sesuai dengan kadar kesucian hati. Makin bertambah kesucian hati, makin bertambah pula penerimaannya atas ilmu.

Maka barangsiapa yang menginginkan tergapainya ilmu, hendaklah dia perindah batinnya/ hatinya.

Dan dia sucikan hatinya dari segala kenajisannya.

Para salaf pada zaman dahulu adalah orang-orang yang paling perhatian terhadap (keadaan) hatinya, bukan sekedar memperhatikan keadaan amalan zhahirnya. Mereka justru paling enggan amalan zhahir itu terlihat oleh orang lain.

Hendaknya kita senantiasa intropeksi terhadap keadaan hati kita. Adakah penyakit-penyakit disitu? Adakah penyakit sudah merasa pintar? Adakah penyakit sudah merasa hebat? Adakah penyakit meremehkan orang lain? Adakah penyakit riya? Sudahkah kita ikhlas? Maka hal-hal tersebut terlebih dahuu yang peru dibersihkan.

Karena barang siapa yang membersihkan hatinya, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang membersihkan hatinya, Allah subhaanahu wa ta’ala akan perbaiki amalan zhahir-nya.”

Sungguh ilmu adalah permata yang berharga. Tidak pantas tersimpan kecuali di hati yang bersih.

Kapan hati kita masih kotor, maka tidak pantas ilmu itu berada disitu.

Setelah Allah subhaanahu wa ta’ala mengangkat Nabi Muhammad sebagai Rasul dengan turunnya QS. Al Muddatstsir ayat 1 – 3, maka ini semua berkaitan bagaimana beliau dengan Allah subhaanahu wa ta’ala. Maka setelah itu Allah turunkan ayat yang ke – 4, “Wa tsiyaabaka fathahhir” (Dan pakaianmu bersihkanlah.) Jumhur ulama menafsirkan ‘pakaian’ yang dimaksud adalah HATI/ BATIN.

Sebagaimana Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam diperintahkan setelah Tauhid, diangkat menjadi Rasul oleh Allah subhaanahu wa ta’ala, maka Allah memerintahkan beliau untuk membersihkan hatinya.

Penyucian hati kembali kepada dua pondasi pokok :

·        Yang pertama, suci dari najis syubhat.

·        Yang kedua, suci dari najis syahwat.

Maka ini adalah seruan agar kotoran-kotoran hati itu dibersihkan dari syubhat dan syahwat.

Apabila engkau (merasa) malu dari pandangan makhluk sepertimu – sesama manusia –, yang (ketika mereka) melihat kotoran (di) bajumu, maka hendaklah (engkau) lebih malu lagi dari pandangan Allah kepada hatimu. Dan sungguh di hatimu banyak kotoran dan keburukan. Begitu banyak dosa dan kesalahan.

Bila saja kita menceritakan seluruh dosa-dosa yang pernah kita buat kepada orang lain, maka orang lain akan beranggapan bahwa kita orang yang busuk. Kemudian bisa jadi orang tersebut akan merasa, “Yang begini ngajar taklim.” “Yang kayak gini ngaku santri.” Dan anggapan-anggapan buruk lainnya.

Dalam shahih Muslim, dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ الله لاينظر إلى صوركم وأموالكم, ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada fisik-fisik dan harta kalian. Tetapi Allah memandang kepada hati-hati dan amalan-amalan kalian.”

Dalam hadits ini Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam tidak memisahkan hati dengan amal. Maka ini merupakan akidah ahlussunnah wal jama’ah bahwa hati dan amal berjalan seiringan/ berkaitan. ‘Tidak mungkin terpisah sampai Unta (bisa) keluar dari lubang jarum’.

Jadi untuk mengetahui hati kita sudah bersih atau belum, kita bisa melihat kualitas amal kita. Contoh : bagaimana qiyamul lail kita apakah sudah bisa menjalankan atau belum, Al Quran dibaca atau tidak setiap hari, peduli atau tidak dengan ilmu, bagaimana menganggap muslim yang lain, masih adakah riya, masih adakah menganggap remeh orang lain, masih adakah takabur, sudah mulai memperbanyak shalat sunnah dan lain sebagainya.

Hati dan amal keduanya saling terikat, kapan hati seorang itu baik maka amalannya juga baik.

Barang siapa yang mensucikan hatinya, maka ilmu akan bisa menetap disitu. Dan barangsiapa yang tidak membersihkan hati dari kenajisan-nya dan justru membiarkannya, maka ilmu itu akan pergi.

Berkata Sahl bin Abdillah rahimahullaahu ta’ala, “Haram bagi hati manapun atas cahaya untuk masuk kesana selama di hati itu ada sesuatu yang dibenci Allah ‘azza wa jalla”.

Jika hati seseorang masih ada noda-noda kotoran, maka noda-noda tersebut akan menjadi penghalang cahaya dari Allah tabaraka wa ta’ala untuk masuk ke dalam hati tersebut. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman, “Aku akan sungguh-sungguh memalingkan dari ayat-ayat-Ku –(yaitu Al Quran) kepada mereka yang sudah merasa besar/ hebat di muka bumi ini”.

Berkata Ibnu Katsir mengenai tafsir ayat diatas, “Bilamana seseorang merasa hebat maka Allah akan hinakan dia dengan kebodohan”. 

====================

Penulisan bersumber dari Kajian Kitab Khulashah Ta'zhimul 'Ilm, pemateri : Al Ustadz Fadhil Mulyono hafizhahullah

Postingan populer dari blog ini

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...