Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi
Simpul Pertama : Penyucian Wadah Ilmu
Wadah ilmu adalah HATI.
Ilmu itu masuk sesuai dengan kadar kesucian hati. Makin bertambah
kesucian hati, makin bertambah pula penerimaannya atas ilmu.
Maka barangsiapa yang menginginkan tergapainya ilmu,
hendaklah dia perindah batinnya/ hatinya.
Dan dia sucikan hatinya dari segala kenajisannya.
Para salaf pada zaman dahulu
adalah orang-orang yang paling perhatian terhadap (keadaan) hatinya, bukan
sekedar memperhatikan keadaan amalan zhahirnya. Mereka justru paling enggan
amalan zhahir itu terlihat oleh orang lain.
Hendaknya kita senantiasa
intropeksi terhadap keadaan hati kita. Adakah penyakit-penyakit disitu? Adakah
penyakit sudah merasa pintar? Adakah penyakit sudah merasa hebat? Adakah
penyakit meremehkan orang lain? Adakah penyakit riya? Sudahkah kita ikhlas?
Maka hal-hal tersebut terlebih dahuu yang peru dibersihkan.
Karena barang siapa yang
membersihkan hatinya, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang
membersihkan hatinya, Allah subhaanahu wa ta’ala akan perbaiki amalan
zhahir-nya.”
Sungguh ilmu adalah permata yang berharga. Tidak pantas
tersimpan kecuali di hati yang bersih.
Kapan hati kita masih kotor,
maka tidak pantas ilmu itu berada disitu.
Setelah Allah subhaanahu wa
ta’ala mengangkat Nabi Muhammad sebagai Rasul dengan turunnya QS. Al
Muddatstsir ayat 1 – 3, maka ini semua berkaitan bagaimana beliau dengan Allah
subhaanahu wa ta’ala. Maka setelah itu Allah turunkan ayat yang ke – 4, “Wa tsiyaabaka fathahhir” (Dan
pakaianmu bersihkanlah.) Jumhur ulama menafsirkan ‘pakaian’ yang dimaksud
adalah HATI/ BATIN.
Sebagaimana Nabi shalallaahu
‘alaihi wasallam diperintahkan setelah Tauhid, diangkat menjadi Rasul oleh Allah
subhaanahu wa ta’ala, maka Allah memerintahkan beliau untuk membersihkan
hatinya.
Penyucian hati kembali kepada dua pondasi pokok :
·
Yang pertama, suci dari najis syubhat.
·
Yang kedua, suci dari najis syahwat.
Maka ini adalah seruan agar
kotoran-kotoran hati itu dibersihkan dari syubhat dan syahwat.
Apabila engkau (merasa) malu dari pandangan makhluk sepertimu
– sesama manusia –, yang (ketika mereka) melihat kotoran (di) bajumu, maka
hendaklah (engkau) lebih malu lagi dari pandangan Allah kepada hatimu. Dan
sungguh di hatimu banyak kotoran dan keburukan. Begitu banyak dosa dan
kesalahan.
Bila saja kita menceritakan
seluruh dosa-dosa yang pernah kita buat kepada orang lain, maka orang lain akan
beranggapan bahwa kita orang yang busuk. Kemudian bisa jadi orang tersebut akan
merasa, “Yang begini ngajar taklim.” “Yang kayak gini ngaku santri.” Dan
anggapan-anggapan buruk lainnya.
Dalam shahih Muslim, dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu,
bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إنَّ الله لاينظر إلى صوركم وأموالكم, ولكن ينظر إلى
قلوبكم وأعمالكم
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada fisik-fisik dan harta
kalian. Tetapi Allah memandang kepada hati-hati dan amalan-amalan kalian.”
Dalam hadits ini Nabi
shalallaahu ‘alaihi wasallam tidak memisahkan hati dengan amal. Maka ini
merupakan akidah ahlussunnah wal jama’ah bahwa hati dan amal berjalan
seiringan/ berkaitan. ‘Tidak mungkin terpisah sampai Unta (bisa) keluar dari
lubang jarum’.
Jadi untuk mengetahui hati
kita sudah bersih atau belum, kita bisa melihat kualitas amal kita. Contoh :
bagaimana qiyamul lail kita apakah sudah bisa menjalankan atau belum, Al Quran
dibaca atau tidak setiap hari, peduli atau tidak dengan ilmu, bagaimana
menganggap muslim yang lain, masih adakah riya, masih adakah menganggap remeh
orang lain, masih adakah takabur, sudah mulai memperbanyak shalat sunnah dan
lain sebagainya.
Hati dan amal keduanya saling
terikat, kapan hati seorang itu baik maka amalannya juga baik.
Barang siapa yang mensucikan hatinya, maka ilmu akan bisa menetap
disitu. Dan barangsiapa yang tidak membersihkan hati dari kenajisan-nya dan
justru membiarkannya, maka ilmu itu akan pergi.
Berkata Sahl bin Abdillah rahimahullaahu ta’ala, “Haram bagi
hati manapun atas cahaya untuk masuk kesana selama di hati itu ada sesuatu yang
dibenci Allah ‘azza wa jalla”.
Jika hati seseorang masih ada
noda-noda kotoran, maka noda-noda tersebut akan menjadi penghalang cahaya dari
Allah tabaraka wa ta’ala untuk masuk ke dalam hati tersebut. Sebagaimana Allah ta’ala
berfirman, “Aku akan sungguh-sungguh memalingkan dari ayat-ayat-Ku –(yaitu Al
Quran) kepada mereka yang sudah merasa besar/ hebat di muka bumi ini”.
Berkata Ibnu Katsir mengenai tafsir ayat diatas, “Bilamana seseorang merasa hebat maka Allah akan hinakan dia dengan kebodohan”.
====================
Penulisan bersumber dari Kajian Kitab Khulashah Ta'zhimul 'Ilm, pemateri : Al Ustadz Fadhil Mulyono hafizhahullah