Langsung ke konten utama

Hikmah Anak Laki-laki Seorang Nabi

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlih

Dijelaskan oleh guru kami, dan beliau mendapatkan hikmah ini dari guru beliau, bahwa para Nabi yang memiliki anak laki-laki pasti di antara mereka ada yang menjadi Nabi. Misal Nabi Ismail a.s dan Ishaq a.s yang merupakan putra Nabi Ibrahim a.s. Dan Nabi Yusuf a.s yang merupakan putra Nabi Ya'qub a.s.

Oleh karena itulah mengapa putra-putra Nabi Ya'qub a.s cemburu terhadap Nabi Yusuf a.s, terlebih tatkala mengetahui tentang apa yang Nabi Yusuf a.s dapatkan dalam mimpinya. Sehingga mereka berfirasat bahwasanya Nabi Yusuf a.s ini bukanlah manusia biasa. 

Karena mereka sangat paham bahwa di antara putra para Nabi pasti akan ada yang menjadi Nabi, begitu juga dengan putra-putra Nabi Ya'qub a.s. Sehingga mereka berlomba-lomba menjadi yang terpilih.

Hingga para ulama sampai pada kesimpulan bahwa hikmah dari tidak adanya putra Nabi Muhammad s.a.w yang hidup sampai dewasanya, karena untuk menjaga kemuliaan beliau. Sudah dipahami bahwasanya Nabi Muhammad s.a.w adalah Nabi terakhir, TIDAK ADA Nabi setelahnya. Apabila beliau memiliki putra dan tidak menjadi Nabi karena telah ditetapkan bahwa beliau adalah Nabi terakhir, maka akan dapat mengurangi kemuliaan beliau. Dimana sejarah menunjukkan bahwa putra-putra dari para Nabi pasti akan ada yang menjadi Nabi.

Wallaahu a'lam bish shawwab..

====================

Faidah diambil dari Kajian Pelajaran 'Al 'Arabiya bayna Yadaik', pengajar : Al Ustadz Muhammad Rivaldi hafizhahullahu ta'ala (Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...