Penulis : A Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi
MUQADDIMAH
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Penulis memulai kitab dengan
basmalah, hal ini mencontoh sunnah Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam dalam
surat-suratnya yang dikirim kepada raja-raja.
Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang diagungkan dengan
tauhid.
Penulis mensifati Allah
ta’ala, dimana Allah subhaanahu wa ta’ala di-agung-kan dengan TAUHID. Artinya
tanpa tauhid, Allah subhaanahu wa ta’ala tidak akan bisa diagungkan sebagaimana
mestinya. Dan setiap amalan yang kita niatkan, apapun itu, maka tanpa tauhid
tidak akan bernilai di sisi Allah subhaanahu wa ta’ala. Meskipun kita ingin
mengagungkan Allah ta’ala tanpa adanya tauhid, maka itu tidak akan terhitung di
sisi Allah ta’ala.
Dan shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Muhammad,
hamba dan utusan-Nya dengan kemuliaan yang paling mulia. Dan atas keluarganya
juga para sahabatnya, yang diberikan keutamaan dan kelurusan.
Semua hal ini, yaitu urutan
dalam penulisan dari basmalah, alhamdulillah serta shalawat dan salam kepada
Nabi dan kepada keluarganya dan kepada para sahabatnya ini merupakan kebiasaan
penulis dari zaman ke zaman secara kesepakatan.
Amma ba’du.
Maka ini merupakan ringkasan dari kitabku “Ta’zhim Al ‘Ilm”.
Ini adalah kitab asalnya, yang
berjudul ‘Ta’zhimil ‘Ilm’.
Diringkas dan dikumpulkan dengan maksud untuk dihafal. Maka
telah dikeluarkan dari kitab asalnya intisari pelajaran agar bermanfaat untuk
dihafal. Dijadikan pula contoh-contoh
yang memudahkan maksud setiap bab agar bagi penuntut ilmu menjadi terang dan
jelas. Dan para pembaca dapat mempersiapkan dirinya untuk beramal dan terus
mengambil pelajaran. Maka aku meminta kepada Allah untuk diriku dan mereka agar
dapat selalu berkomitmen dengan simpul-simpul pengagungan ilmu (yang
disebutkan dalam kitab ini) dan aku memohon kepada Allah untukku dan mereka kemenangan
dengan semua keutamaan dari Allah subhaanahu wa ta’ala.
Kenapa dinamakan simpul/
ma’aaqid : (1) Dengan simpul itu jika tadinya jaraknya jauh, maka dengan adanya
simpul bisa jadi dekat. Sehingga dinamakan simpul karena pemuliaan-pemuliaan
ilmu yang disebutkan dalam kitab ini rata-rata kita telah jauh darinya. (2)
Agar semakin lama semakin dekat dan kita bisa terus komitmen menjalankan
pengagungan ilmu tersebut.
Rasulullah bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ
فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ
“"Barangsiapa meniti
jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga..” (HR.
Abu Dawud)
Sebagian orang kurang
pemahamannya terhadap hadits ini seakan-akan ‘salakath thariqan’ maknanya
adalah (sekedar) jalannya kita dari rumah ke masjid, kemudian mendengar taklim,
dan itulah yang dianggap sebagai jalan yang dengannya Allah subhaanahu wa
ta’ala mudahkan dirinya ke surga. Padahal lebih dari itu, yang lebih sulit itu
adalah ketika majelis itu selesai, ketika seorang thaalib perlu menghafal,
murajaah, membersihkan hatinya, bagaimana dia bersikap di tengah masyarakat,
sampai cara berpakaian pun sebenarnya sudah diatur oleh para ulama bahwa itu
ada pakemnya dari zaman ke zaman.
Sebagaimana dahulu ketika
Nafi’, murid Abdullah bin ‘Umar bertanya, “Wahai Ibnu ‘Umar, perlukah kita
pakai peci ketika shalat?” Maka Ibnu ‘Umar menjawab, “Engkau keluar rumah tidak
pakai peci?” Karena pada saat itu kalau tidak pakai peci itu merupakan sebuah
kekurangan yang orang mengira ini bukan santri. Sehingga dari segi berpakaian
pun diperhatikan.
Bahkan sebagian orang ketika
memutuskan untuk menjadi thaalib, dia sudah mempersiapkan sedemikian rupa tidak
mau mengambil pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi mengambil waktunya sedemikian
besar. Sehingga dia berani berkorban untuk dirinya dan waktunya untuk menuntut
ilmu. Jadwalnya sudah tertata; pagi digunakan untuk menghafal, dhuha untuk
muraja’ah, siang untuk mempelajari materi yang baru, kemudian terus seperti itu. Sehingga dia
menjadi manusia yang paling pelit dengan waktunya, paling hati-hati dengan waktunya.
Waktunya tidak lagi dia gunakan untuk hal yang sia-sia, semuanya disibukkan
dengan ilmu, dengan kata-kata yang bermanfaat, dengan buku-buku yang bisa
membawa dirinya kepada taqwa kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.
Maka dengan itulah kita bisa
paham mengapa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا
لِطَالِبِ الْعِلْمِ
“Sesungguhnya para malaikat menaruh sayapnya
ridha kepada para penuntut ilmu.” (HR. Abu Dawud)
Karena thaalibul ‘ilm, bukan sekedar datang ke
taklim kemudian selesai. Namun yang dinaungi oleh sayap malaikat adalah yang
betul-betul thaalib yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidupnya.
Dan Rasulullah melanjutkan sabdanya,
وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ
لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ
الْمَاءِ
“Orang yang berilmu akan
dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar
laut.” (HR. Abu Dawud)
Sedemikian besar keutamaan
seorang thaalib.
Ibnul Jauzi berkata,
“Istirahat itu tidak mungkin diraih dengan istirahat.”, artinya istirahat di
surga tidak mungkin diraih dengan istirahat di dunia. Jadi istirahat di surga
diraih dengan jerih payah. Surga itu mahal. Dan dimudahkan jalannya seseorang
untuk ke surga yaitu dengan cara dia menjadi thaalibil ‘ilm yang jujur dalam
niatnya dan dalam
tekadnya.
*****
MUQADDIMAH – 2
Muqaddimah yang kedua ini
adalah muqaddimah dari kitab aslinya.
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Segala puji hanya milik Allah. Dan aku bersaksi bahwa tidak
ada Ilaah kecuali Allah. Dan Muhammad itu hamba dan utusan-Nya shalallaahu
‘alaihi wasallam. Dan atas keluarganya dan para sahabatnya, hamba-hamba yang
belajar dan mengajar. Amma ba’du.
Maka batasan bagi seorang hamba dari ilmu (bagaimana
seseorang itu bisa meraih ilmu) itu sesuai dengan bagaimana hatinya dia
mengagungkan dan memuliakan ilmu tersebut.
Maka barangsiapa yang tidak
mengagungkan dan tidak memuliakan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu
dari Allah subhaanahu wa ta’ala
Barangsiapa yang hatinya penuh dengan pengagungan ilmu dan
pemuliaannya, maka hati tersebut akan menjadi tempat yang sesuai bagi ilmu.
Karena ilmu itu disimpan di
dalam hati. Dan apabila hatinya buruk, maka dia tidak menjadi tempat yang
sepadan dengan apa yang akan disimpan, sebagaimana berlian itu tidak mungkin
akan ditaruh sembarangan.
Dan seseorang yang kurang dalam pengagungan ilmu di hati, (maka)
berkurang pula kadar dia dalam menerima ilmu. Sampai-sampai ada hati yang
didalamnya tidak ada sedikitpun ilmu. Maka barangsiapa yang mengagungkan ilmu,
cahaya itu akan nampak padanya. Dan berbagai macam utusan – cabang-cabangnya –
ilmupun akan datang kepadanya. Dan tidak ada pada tekadnya sebuah tujuan,
kecuali untuk mentalaqqi-nya. Dan tidak ada pada jiwanya kelezatan, kecuali memikirkan
tentangnya – tentang ilmu –.
Ada seseorang yang saking
cintanya dengan ilmu sampai ada yang mengadukan kepada Syaikh bin Baz,
bagaimana hukum seorang thaalib dimana dia lebih senang dengan ’Bulughul Maram’
dibandingkan bercengkrama dengan istrinya.
Seakan-akan Abu Muhammad Ad Darimi Al Hafizh rahimahullaahu
ta’ala mempunyai pandangan yang semakna. Dimana beliau menutup “Kitab Al –
‘Ilm” dalam sunan-nya yang bernama “Al Musnad Al Jami’” dengan bab “Dalam
Pengagungan Ilmu.”
Di akhir kitab ‘Kitabul
‘Ilm-nya Sunan Ad Darimi ditulis bab “Dalam Pengagungan Ilmu”.
Maka hal yang paling membantu untuk sampai ke tahap
mengagungkan ilmu dan memuliakannya adalah mengetahui simpul-simpul
pengagungannya.
Yaitu apa saja yang hal-hal
yang perlu diakukan sehingga kita teranggap sudah mengagungkan ilmu.
Yaitu pondasi-pondasi yang menyeluruh yang merealisasikan
pengagungan ilmu di hati.
Maka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul tersebut, dia
telah mengagungkan ilmu dan memuliakannya. Dan siapa yang menelantarkannya maka
dia telah menyia-nyiakan dirinya, mematuhi hawa nafsunya. Maka tidak ada yang
bisa disalahkan, jika memang dia meremehkannya, kecuali dirinya sendiri.
“Tanganmu yang mengikat, mulutmu yang meniup.”
Ini merupakan pepatah Bahasa
Arab. Sebagaimana diceritakan bahwa dahulu ada seseorang yang tinggal di
pesisir pantai. Dan pantai tersebut memiliki ombak yang kuat. Sehingga jika
orang ingin berenang di pantai tersebut, dia bawa ban kemudian ban-nya tersebut
dia ikat pada sebuah tiang, kemudian dia pakai ban-nya untuk kemudian dia mandi
di pantai tersebut. Suatu hari orang ini mau berenang di pantai dengan ban-nya
namun mengikatnya dengan cara yang tidak benar dan meniupnya juga tidak benar.
Maka dia terbawa arus, karena ikatannya tidak benar sehingga tidak kuat dan
karena tiupannya juga tidak benar maka ban-nya pun kempes. Kemudian dia
berteriak kepada teman-temannya, “Wahai teman-temanku, kenapa engkau
membiarkanku, tidak menolongku?! Kalian telah membunuh saya!” Maka teman-temannya
yang di pesisir pantai berkata, “Tanganmu yang mengikat, mulutmu yang meniup,
tapi kita yang disalahkan”. Artinya tidak ada yang bisa disalahkan kecuali
dirinya sendiri. Dan sejak itu ini menjadi pepatah untuk mengutarakan makna
ini.
Dan barang siapa yang tidak memuliakan ilmu, ilmupun tidak memuliakan dia.
====================
Penulisan bersumber dari Kajian Kitab Khulashah Ta'zhimul 'Ilm, pemateri : Ustadz Fadhil Mulyono hafizhahullah