Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi
Simpul Ke – 2 : Ikhlasnya Niat dalam Ilmu
Sesungguhnya ikhlasnya amal adalah pondasi diterimanya dan
tangga untuk terangkatnya (amal kepada Allah). Allah berfirman,
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟
ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
“Padahal tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk
beribadah kepada Allah, memurnikan seluruh ibadah untuk-Nya, sebagai
orang-orang yang hanif.” (QS. Al Bayyinah : 5)
Dan dalam shahihain, dari Umar radhialllaahu ‘anhu,
bahwasanya Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan itu
berdasar NIAT-nya. Dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang
diniatkan.”
Semua yang telah berlalu dan semua yang sampai dari keutamaan
pada salafush-shalih, itu semua karena perkara keikhlasan (mereka) kepada Allah
rabbil ‘aalamiin.
Berkata Abu Bakr Al Marrudzi rahimahullah, “Aku mendengar
seseorang berkata kepada Abu Abdillah, yakni Ahmad bin Hanbal rahimahullaah,
menyebutkan perkara kejujuran dan keikhlasan. Maka Imam Ahmad pun menjawab,
‘Dengan perkara inilah – kejujuran dan keikhlasan – sebuah kaum akan diangkat (oleh
Allah)!’
Sesungguhnya ILMU itu digapai sesuai dengan kadar ke-IKHLAS-annya.
Ukuran seseorang memiliki ilmu
atau tidak bukan dari jumlah hafalannya saja, namun jumlah hafalan merupakan
salah satu indikatornya (saja) orang itu berilmu atau tidak. Tetapi indikator
utamanya adalah AMALAN, artinya orang tersebut mampu mengamalkan ilmu yang dia
hafal. Namun jika yang terjadi sebaliknya, orang tersebut tidak mampu
mengamalkan ilmu yang dia hafal, maka ada sesuatu yang salah dalam dirinya.
Berbeda dengan orang yang
mungkin dia tidak (banyak) hafalan, tapi dia beramal. Maka itulah indikator
utama.
Perkara ikhlas dalam menuntut ilmu berdiri di atas empat
pondasi, yang dengan ini luruslah niat seorang penuntut ilmu jika dia memang
menginginkannya :
·
Pertama, untuk mengangkat kebodohan dari dirinya,
dengan menyadari bahwa dirinya bertanggung jawab dari perkara-perkara ubudiyyah
serta menyadari bahwa terdapat bagi dirinya berupa perintah untuk ditaati dan
larangan untuk dijauhi.
·
Kedua, mengangkat kebodohan dari orang lain dengan
mengajari dan membimbing mereka tentang apa yang memperbaiki dunia dan akhirat
mereka.
·
Ketiga, menghidupkan ilmu dan menjaganya agar tidak
hilang.
·
Keempat, beramal dengan ilmu tersebut.
Kapan keempat hal ini dimiiki
oleh seseorang dalam menuntut ilmu, maka insyaallah dia termasuk ke dalam orang
yang telah ikhlash dalam menuntut ilmu.
Sungguh dulu para salaf sangat khawatir dari luputnya perkara
ikhlas dalam menuntut ilmu. Bahkan mereka sangat berhati-hati dari merasa
(dirinya sudah) ikhlas, bukan karena mereka tidak mempunyai keikhlasan dalam
hati-hati mereka.
Ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullaah, “Apakah
kamu menuntut ilmu karena Allah?” Beliau menjawab, “Niat karena Allah itu
berat! Akan tetapi ilmu merupakan sesuatu yang aku cintai, maka aku-pun
menuntut ilmu”.
Perkataan Imam Ahmad ini
maksudnya beliau tidak mau mengaku bahwa beliau menuntut ilmu karena Allah.
Inilah yang dimaksud kekuatiran ulama terdahulu yang sering mengkhawatirkan
tentang keikhlasannya dalam menuntut ilmu. Sebenarnya mereka tentunya berusaha untuk
ikhlas, namun mereka tidak mau mendeklarasikan tentang keikhlasannya tersebut.
Maka barang siapa yang menelantarkan – menyia-nyiakan –
ikhlas, sungguh dia telah melewatkan ilmu dan kebaikan yang banyak.
Dan sepatutnya bagi yang menginginkan keselamatan, agar terus
memeriksa dan memperbaiki pondasi ini, yaitu KEIKHLASAN, dalam perkara-perkaranya.
Semuanya. Yang besar maupun yang kecil. Yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Dan terus menerus memeriksa keikhlasan ini, menunjukkan
betapa sulitnya perkara meluruskan niat.
Berkata Sufyan Ats-Tsauri rahimahullaah, “Tidak ada sesuatu
yang lebih berat untuk aku atasi melainkan meluruskan niatku. Karena niat itu
berbolak balik terhadap diriku.”
Bahkan Sulaiman Al Hasyimi berkata, “Terkadang aku ingin menyampaikan sebuah hadits dan aku memiliki satu niat baik. Maka ketika aku datang kepada sebagian mereka (untuk menyampaikan hadits tersebut), maka niat baikku pun berubah. Ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat.”
====================
Penulisan bersumber dari Kajian Kitab Khulashah Ta'zhimil 'Ilm, pemateri : Al Ustadz Fadhil Mulyono hafizhahullah