Langsung ke konten utama

KITAB KHULASHAH TA'ZHIMUL 'ILM : Ikhlasnya Niat dalam Ilmu (3)

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi

Simpul Ke – 2 : Ikhlasnya Niat dalam Ilmu

Sesungguhnya ikhlasnya amal adalah pondasi diterimanya dan tangga untuk terangkatnya (amal kepada Allah). Allah berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, memurnikan seluruh ibadah untuk-Nya, sebagai orang-orang yang hanif.” (QS. Al Bayyinah : 5)

Dan dalam shahihain, dari Umar radhialllaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan itu berdasar NIAT-nya. Dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang diniatkan.”

Semua yang telah berlalu dan semua yang sampai dari keutamaan pada salafush-shalih, itu semua karena perkara keikhlasan (mereka) kepada Allah rabbil ‘aalamiin.

Berkata Abu Bakr Al Marrudzi rahimahullah, “Aku mendengar seseorang berkata kepada Abu Abdillah, yakni Ahmad bin Hanbal rahimahullaah, menyebutkan perkara kejujuran dan keikhlasan. Maka Imam Ahmad pun menjawab, ‘Dengan perkara inilah – kejujuran dan keikhlasan – sebuah kaum akan diangkat (oleh Allah)!’

Sesungguhnya ILMU itu digapai sesuai dengan kadar ke-IKHLAS-annya.

Ukuran seseorang memiliki ilmu atau tidak bukan dari jumlah hafalannya saja, namun jumlah hafalan merupakan salah satu indikatornya (saja) orang itu berilmu atau tidak. Tetapi indikator utamanya adalah AMALAN, artinya orang tersebut mampu mengamalkan ilmu yang dia hafal. Namun jika yang terjadi sebaliknya, orang tersebut tidak mampu mengamalkan ilmu yang dia hafal, maka ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Berbeda dengan orang yang mungkin dia tidak (banyak) hafalan, tapi dia beramal. Maka itulah indikator utama.

Perkara ikhlas dalam menuntut ilmu berdiri di atas empat pondasi, yang dengan ini luruslah niat seorang penuntut ilmu jika dia memang menginginkannya :

·        Pertama, untuk mengangkat kebodohan dari dirinya, dengan menyadari bahwa dirinya bertanggung jawab dari perkara-perkara ubudiyyah serta menyadari bahwa terdapat bagi dirinya berupa perintah untuk ditaati dan larangan untuk dijauhi.

·        Kedua, mengangkat kebodohan dari orang lain dengan mengajari dan membimbing mereka tentang apa yang memperbaiki dunia dan akhirat mereka.

·        Ketiga, menghidupkan ilmu dan menjaganya agar tidak hilang.

·        Keempat, beramal dengan ilmu tersebut.

Kapan keempat hal ini dimiiki oleh seseorang dalam menuntut ilmu, maka insyaallah dia termasuk ke dalam orang yang telah ikhlash dalam menuntut ilmu.

Sungguh dulu para salaf sangat khawatir dari luputnya perkara ikhlas dalam menuntut ilmu. Bahkan mereka sangat berhati-hati dari merasa (dirinya sudah) ikhlas, bukan karena mereka tidak mempunyai keikhlasan dalam hati-hati mereka.

Ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullaah, “Apakah kamu menuntut ilmu karena Allah?” Beliau menjawab, “Niat karena Allah itu berat! Akan tetapi ilmu merupakan sesuatu yang aku cintai, maka aku-pun menuntut ilmu”.

Perkataan Imam Ahmad ini maksudnya beliau tidak mau mengaku bahwa beliau menuntut ilmu karena Allah. Inilah yang dimaksud kekuatiran ulama terdahulu yang sering mengkhawatirkan tentang keikhlasannya dalam menuntut ilmu. Sebenarnya mereka tentunya berusaha untuk ikhlas, namun mereka tidak mau mendeklarasikan tentang keikhlasannya tersebut.

Maka barang siapa yang menelantarkan – menyia-nyiakan – ikhlas, sungguh dia telah melewatkan ilmu dan kebaikan yang banyak.

Dan sepatutnya bagi yang menginginkan keselamatan, agar terus memeriksa dan memperbaiki pondasi ini, yaitu KEIKHLASAN, dalam perkara-perkaranya. Semuanya. Yang besar maupun yang kecil. Yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Dan terus menerus memeriksa keikhlasan ini, menunjukkan betapa sulitnya perkara meluruskan niat.

Berkata Sufyan Ats-Tsauri rahimahullaah, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk aku atasi melainkan meluruskan niatku. Karena niat itu berbolak balik terhadap diriku.”

Bahkan Sulaiman Al Hasyimi berkata, “Terkadang aku ingin menyampaikan sebuah hadits dan aku memiliki satu niat baik. Maka ketika aku datang kepada sebagian mereka (untuk menyampaikan hadits tersebut), maka niat baikku pun berubah. Ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat.” 

====================

Penulisan bersumber dari Kajian Kitab Khulashah Ta'zhimil 'Ilm, pemateri : Al Ustadz Fadhil Mulyono hafizhahullah

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...