Iman Kepada Takdir
Iman kepada takdir adalah iman yang pasti bahwa Allah menetapkan takdir
seluruh makhluk dengan ilmunya yang azali, menuliskannya di lauhil
mahfuzh, menjalankan dengan kehendak-Nya, serta menciptakan-Nya dengan
kekuasaan-Nya.
Sebagaimana firman Allah ta’ala,
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al
Qamar : 49)
Konsekuensi Iman kepada Takdir :
1 – Beriman kepada ilmu Allah yang azali, abadi, yang mencakup
segala sesuatu yang global maupun terperinci.
هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ
بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Hadid : 3)
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
“Apakah kamu tidak mengetahui
bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?;
bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).
Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj : 70)
2 – Beriman kepada penulisan Allah terhadap
takdir di lauhul mahfuzh
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ
وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ
ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada suatu bencanapun yang
menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis
dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)
Allah telah mencatat semua yang
akan terjadi di alam semesta ini sampai hari kiamat di lauhul mahfuzh. Dan
catatan yang ada di lauhul mahfuzh hanya sampai pada hari kiamat.
Ada catatan-catatan salinan
dimana dia menyesuaikan dengan catatan yang ada di lauhul mahfuzh, di
antaranya disebut dengan :
1. Takdir wisaq, yaitu takdir yang Allah tetapkan pada saat Dia
mengambil perjanjian anak Adam dari tubuh Adam a.s.
2. Takdir umri, yaitu takdir yang Allah tetapkan untuk
manusia secara personal. Ini ditetapkan pada saat manusia di kandungan ibunya.
3. Takdir hauli, yaitu salinan catatan takdir untuk satu
tahun ke depan. Dan ini dicatat pada saat malam lailatul qadar.
4. Takdir yaumi, yaitu menggiring kejadian pada waktu yang
ditentukan oleh Allah untuk terjadi.
3 – Beriman kepada masyi-ah
(kehendak) Allah yang memiliki otoritas; apa yang Allah kehendaki pasti
terjadi, dan yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi.
لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
“(yaitu) bagi siapa di antara
kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At Takwir : 28)
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki
(menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. At Takwir : 29)
4 – Beriman bahwa Allah
menciptakan segala sesuatu dan mewujudkannya beserta perbuatan mereka.
ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ ۖ
وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ
“Allah menciptakan segala sesuatu dan
Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar : 62)
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ
وَمَا تَعْمَلُوْنَ ﴿الصافات : ۹۶﴾
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu
perbuat itu.” (QS. As-Saffat: 96)
5 – Beriman bahwa tidak ada
keterikatan yang lazim antara masyi-ah dan mahabbah.
وَلَوْ شِئْنَا لَاٰتَيْنَا كُلَّ
نَفْسٍ هُدٰىهَا وَلٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ
الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ ﴿السجدة : ۱۳﴾
Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami
berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetapkan
perkataan (ketetapan) dari-Ku, “Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam dengan jin
dan manusia bersama-sama. (QS. As-Sajdah: 13)
Terkadang Allah mencintai sesuatu,
akan tetapi tidak menghendaki sesuatu itu terjadi. Dan terkadang Allah
menghendaki sesuatu terjadi yang tidak Dia cintai. Ini semua dikembalikan
kepada hikmah Allah subhaanahu wa ta’ala.
6 – Beriman bahwa tidak ada pertentangan
antara syariat dan qadar.
سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا
لَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَآ اَشْرَكْنَا وَلَآ اٰبَاۤؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ
شَيْءٍۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتّٰى ذَاقُوْا بَأْسَنَاۗ
قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَنَاۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ
اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ
Orang-orang musyrik akan berkata,
“Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula
nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula
orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka
merasakan azab Kami. Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu mempunyai pengetahuan
yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan
belaka, dan kamu hanya mengira.” (QS. Al An’am : 148)
قُلْ فَلِلّٰهِ الْحُجَّةُ
الْبَالِغَةُۚ فَلَوْ شَاۤءَ لَهَدٰىكُمْ اَجْمَعِيْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Alasan yang
kuat hanya pada Allah. Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat
petunjuk.” (QS. Al An’am : 149)
Syariat dan qadar tidak bisa
dipertentangkan, misal seseorang yang berbuat zina tidak bisa dipertentangkan
bahwasanya ini sudah ditakdirkan. Karena :
1. Syariat telah jelas menyatakan ini tidak boleh
2. Dan takdir merupakan rahasia Allah, dia baru diketahui setelah hal
tersebut terjadi.
Golongan yang tersesat dalam masalah
takdir :
§ Qadariyyah
o Ghullat (Ekstrem), menafikkan adanya ilmu Allah dan
penulisan takdir.
Mereka mengatakan bahwa Allah tidak tahu apa yang akan terjadi.
o Muktazilah, menafikkan adanya masyiah Allah dan penciptaan
takdir oleh Allah.
§ Jabriyyah
