Langsung ke konten utama

Fiqhul Akbar (Bagian 5) - Iman Kepada Kitab-kitab Allah


Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Konsekuensi Iman kepada Kitab-kitab Allah

Iman kepada kitab-kitab Allah adalah iman yang pasti bahwasanya Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab kepada para Nabi yang berisi kebenaran, petunjuk, rahmat, nasihat dan hujjah bagi manusia, serta penjelasan bagi segala sesuatu.

Kitab-kitab terdahulu tidak terjaga dari pengubahan. Berbeda dengan al Quran yang dijaga oleh Allah. (kitab terdahulu semuanya mengalami perubahan)

Syaikh Wahid Abdussalam Baliy mengatakan bahwasanya kitab terdahulu itu ada dua kondisi :

1.       Muharraf (mengalami perubahan)

2.       Hilang

Konsekuensi beriman kepada kitab-kitab Allah :

1.       Beriman kepada kitab yang diketahui namanya secara rinci dan iman secara global kepada kitab yang tidak diketahui namanya.

Maksudnya : kitab-kitab suci yang disebutkan nama-namanya harus kita imani sesuai dengan nama-nama yang diterangkan. Adapun yang tidak disebutkan nama-namanya maka kita imani secara global, yaitu kita meyakini bahwasanya Allah ta’ala menurunkan kitab suci.

Kitab-kitab yang disebutkan nama-namanya adalah :

*      Al Quran

Allah ta’ala berfirman, “وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;” (QS. Al Ma'idah 5:48)

*      Taurat

Allah ta’ala berfirman, إِنَّآ أَنزَلْنَا ٱلتَّوْرَىٰةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),” (QS. Al Ma'idah 5:44)

*      Injil

Allah ta’ala berfirman, وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ

“Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi),” (Al Ma'idah 5:46)

*      Zabur

Allah ta’ala berfirman, وَءَاتَيْنَا دَاوُۥدَ زَبُورًا

“Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. An Nisa 4:163)

2.       Membenarkan kabar kitab terdahulu yang tidak diselewengkan.

Terkadang kitab-kitab terdahulu menyebarkan informasi-informasi, ini bisa kita benarkan selama informasi-informasi tersebut bukan hasil penyelewengan mereka. Oleh karenanya para ulama mengatakan terkait kisah israiliyyat (kisah-kisah yang terambil dari kitab-kitab mereka) ada tiga macam :

a.       Dibenarkan oleh al Quran maupun as sunnah, maka kita membenarkannya.

b.       Disalahkan oleh al Quran maupun as sunnah, maka kita menyalahkannya.

c.       Tidak dibenarkan dan tidak disalahkan, maka kita mendiamkannya.

3.       Berhukum dengan syariat yang ada di dalam al Quran

Allah ta’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al Ma'idah 5:48)

4.       Beriman dengan seluruh kitab, tidak membagi-baginya.

Semua kitab suci kita imani, tidak kita imani sebagiannya atau kita kufuri sebagiannya.

Allah ta’ala berfirman,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (QS. Al Baqarah 2:85)

5.       Larangan untuk menutupinya, menyelewengkannya, berselisih tentangnya, dan membenturkan ayat Allah dengan ayat lainnya.

Terlarang untuk menyembunyikannya (ayat-ayat Allah), merubahnya, memperselisihkan apa yang ada di dalam al quran, dan membenturkan kalamullah satu dengan yang lain.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَٱشْتَرَوْا۟ بِهِۦ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran 3:187)

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...