Iman Kepada Kitab-kitab Allah
Konsekuensi Iman kepada
Kitab-kitab Allah
Iman kepada kitab-kitab Allah
adalah iman yang pasti bahwasanya Allah ta’ala menurunkan kitab-kitab kepada
para Nabi yang berisi kebenaran, petunjuk, rahmat, nasihat dan hujjah bagi
manusia, serta penjelasan bagi segala sesuatu.
Kitab-kitab terdahulu tidak
terjaga dari pengubahan. Berbeda dengan al Quran yang dijaga oleh Allah. (kitab
terdahulu semuanya mengalami perubahan)
Syaikh Wahid Abdussalam Baliy mengatakan
bahwasanya kitab terdahulu itu ada dua kondisi :
1. Muharraf (mengalami perubahan)
2. Hilang
Konsekuensi beriman kepada
kitab-kitab Allah :
1. Beriman kepada kitab yang diketahui namanya secara rinci dan
iman secara global kepada kitab yang tidak diketahui namanya.
Maksudnya :
kitab-kitab suci yang disebutkan nama-namanya harus kita imani sesuai dengan
nama-nama yang diterangkan. Adapun yang tidak disebutkan nama-namanya maka kita
imani secara global, yaitu kita meyakini bahwasanya Allah ta’ala menurunkan
kitab suci.
Kitab-kitab yang
disebutkan nama-namanya adalah :
Al Quran
Allah ta’ala berfirman, “وَأَنزَلْنَآ
إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ “
“Dan Kami
telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu;” (QS. Al Ma'idah 5:48)
Taurat
Allah ta’ala berfirman, إِنَّآ
أَنزَلْنَا ٱلتَّوْرَىٰةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di
dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),” (QS. Al Ma'idah
5:44)
Injil
Allah ta’ala berfirman, وَءَاتَيْنَٰهُ
ٱلْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ
“Dan Kami
telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan
cahaya (yang menerangi),” (Al Ma'idah 5:46)
Zabur
Allah ta’ala berfirman, وَءَاتَيْنَا
دَاوُۥدَ زَبُورًا
“Dan Kami
berikan Zabur kepada Daud.” (QS. An Nisa 4:163)
2. Membenarkan kabar kitab terdahulu yang tidak diselewengkan.
Terkadang
kitab-kitab terdahulu menyebarkan informasi-informasi, ini bisa kita benarkan
selama informasi-informasi tersebut bukan hasil penyelewengan mereka. Oleh
karenanya para ulama mengatakan terkait kisah israiliyyat (kisah-kisah yang
terambil dari kitab-kitab mereka) ada tiga macam :
a.
Dibenarkan oleh al Quran
maupun as sunnah, maka kita membenarkannya.
b.
Disalahkan oleh al Quran
maupun as sunnah, maka kita menyalahkannya.
c.
Tidak dibenarkan dan tidak
disalahkan, maka kita mendiamkannya.
3. Berhukum dengan syariat yang ada di dalam al Quran
Allah ta’ala
berfirman,
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ
مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم
بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا
جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran
dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab
(yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah
datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan
jalan yang terang.” (QS. Al Ma'idah 5:48)
4. Beriman dengan seluruh kitab, tidak membagi-baginya.
Semua kitab suci
kita imani, tidak kita imani sebagiannya atau kita kufuri sebagiannya.
Allah ta’ala
berfirman,
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ
وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ
فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ
أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ
“Apakah kamu
beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang
lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan
kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan
kepada siksa yang sangat berat.” (QS. Al Baqarah 2:85)
5. Larangan untuk menutupinya, menyelewengkannya, berselisih
tentangnya, dan membenturkan ayat Allah dengan ayat lainnya.
Terlarang untuk
menyembunyikannya (ayat-ayat Allah), merubahnya, memperselisihkan apa yang ada
di dalam al quran, dan membenturkan kalamullah satu dengan yang lain.
Allah ta’ala
berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلَّذِينَ
أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُۥ
فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَٱشْتَرَوْا۟ بِهِۦ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ
فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
“Dan (ingatlah),
ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah
kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu
menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung
mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya
tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran 3:187)
