Iman kepada Allah
Adalah iman yang pasti kepada wujud Allah, serta beriman bahwasanya
Allah adalah Tuhan bagi segala sesuatu, satu-satunya yang berhak diibadahi yang
disifati dengan sifat yang sempurna, dan disucikan dari segala sifat yang tidak
pantas bagi-Nya.
Iman kepada Allah meliputi empat hal :
1. Iman kepada Wujud Allah
(meyakini bahwasanya Allah itu ADA)
2. Iman kepada rububiyah
Allah
3. Iman kepada uluhiyah
Allah
4. Iman kepada asma’
wash shifaat
Sebagian ulama berpendapat bahwa iman kepada Allah hanya meliputi tiga
hal, yaitu iman kepada ulihiyah, rububiyah dan asma’ wash shifaat. Sementara
wujud Allah itu suatu hal yang PASTI yang tidak perlu dibahas. Di antara ulama
yang berpendapat demikian adalah Al Imam Abu Abdillah ‘Ubaidillah bin Muhammad
bin Baththah al Ubbari al Hanbali (W : 387 H) dalam kitabnya Al Ibaanah.
Iman kepada Wujud Allah
Dalil-dalilnya :
1. Fitrah yang lurus
Allah
berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah.
Tetaplah di atas fitrah Allah (tetaplah di atas naluri yang Allah subhaanahu
wa ta’ala ciptakan pada diri kalian) yang telah menetapkan manusia atas
fitrah tersebut.”
2. Akal yang sharih/jelas
Akal yang logis akan mengakui wujud Allah,
sebagaimana firman Allah,
أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ
“Ataukah mereka tercipta tanpa asal usul, ataukah mereka yang
menciptakan diri mereka sendiri.” (QS. Ath Thur : 35)
3. Indera yang nyata
(sesuatu yang dirasakan dan disaksikan dengan indera kita)
Maka mukjizat-mukjizat para rasul,
dikabulkannya doa yang dikabulkan dari para orang yang berdoa, dihilangkannya
kesulitan-kesulitan dari orang-orang yang sulit kemudian meminta kepada Allah;
merupakan dalil-dalil yang bisa dirasakan yang mempersaksikan akan wujud Allah subhaanahu
wa ta’ala.
4. Syariat yang shahih
Adanya syariat yang benar yang
mempersaksikan adanya Allah yang menurunkan syariat tersebut. Sebagaimana
firman Allah, “Seandainya al Quran ini tidak datang dari sisi Allah, niscaya
mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang sangat banyak.”
Siapakah orang-orang yang mengingkari wujud Allah :
1. Ad Dahriyyun
Orang-orang yang memiliki keyakinan
bahwasanya alam semesta itu bersifat ‘azali (tidak ada permulaan) yang
akan hancur jika sudah waktunya.
Allah menyinggung orang-orang seperti ini
dalam firman-Nya :
وَقَالُوا۟ مَا هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنْيَا
نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهْرُ
Dan
mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain
masa." (QS. Jatsiyah : 24)
2. Ath Thaba’iyyun
Mereka yang berpendapat bahwasanya alam
semesta terjadi secara natural.
3. Ash Shadafiyyun
Berpendapat bahwa segala sesuatu terjadi
karena kebetulan saja.
4. Syuyu’iyyun
Berpendapat bahwa tidak ada Tuhan dan
kehidupan adalah materi. Mereka adalah orang-orang komunis.
5. Afraad Syuwaadz (Individu-individu yang ganjil/sesat
pemahamannya)
Orang-orang yang tidak mengakui adanya
Tuhan, namun juga tidak mengikuti orang-orang dahriyyun, tba’iyyun,
shadafiyyun, ataupun syuyu’iyyun. Contohnya : fir’aun.
Sebagaimana firman Allah ta’ala :
وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ
أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ
“Dan
mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati
mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang
yang berbuat kebinasaan.” (QS. An Naml : 14)
Iman kepada Rububiyah
Allah subhaanahu wa ta’ala
Tema bahasan
Rububiyah :
1.
Penciptaan (الخلق) – Allah satu-satunya yang menciptakan alam semesta
“Allah
subhaanahu wa ta’ala adalah pencipta segala sesuatu.”
2.
Kepemilikan (المِلك) – Allah satu-satunya yang memiliki alam
semesta
“Dan
tidak ada sekutu bagi Allah dalam kekuasaan-Nya”
3.
Perintah/Pengaturan alam semesta (الأمْرُ) – Allah satu-satunya yang mengatur alam
semesta, “Sesungguhnya perintah Allah subhaanahu wa ta’ala apabila Dia
berkehendak sesuatu (cukup) mengatakan ‘Kun (Jadilah)’, maka jadilah.” :
a.
Kauni
b.
Syar’i
Allah subhaanahu
wa ta’ala sering disebut sebagai Rabb. Semisal orang berkata, “Yaa Rabbi”,
maksudnya adalah, “Wahai Penciptaku, wahai Pemilikku, wahai Pengaturku”.
Dalil-dalil
Rububiyah Allah :
1.
Fitrah (naluri manusia)
2.
Indera – al his (sesuatu yang bisa dirasakan)
3.
Akal
4.
Syariat (Al Quran dan As Sunnah)
Di antara secara
akal akan rububiyah Allah subhaanahu wa ta’ala,
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ
وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ
وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ
بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ
ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum
yang memikirkan.” (Al Baqarah 2:164)
Orang-orang tersesat dalam perkara rububiyah Allah :
1. Ats Tsanawiyyah dan
Al Manuwiyyah, adalah
kelompok orang-orang yang meyakini ada dua pencipta, yaitu pencipta kebaikan
dan pencipta kebaikan.
2. Ahlu at Tatsliits, adalah orang nasrani. Mereka meyakini Tuhan
itu satu yang terdiri dari tiga komponen (Tuhan bapa, ibu dan anak), pada
akhirnya ini tidak bisa disebut satu.
3. Sebagian musyrikin
‘Arab, mereka meyakini ada selain Allah yang bisa memberi manaat dan mudharat.
4. Al Qadariyah An
Nufaah, mereka menafi’kan
perbuatan Allah kepada hamba-Nya. Mereka berkeyakinan bahwa perbuatan hamba
adalah perbuatan hamba sendiri, bukan atas takdir Allah subhaanahu wa
ta’ala. (Hamba mencipta perbuatan mereka sendiri)
Allah ta’ala berfirman,
مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ
إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan
(yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu
akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan
mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang
mereka sifatkan itu,” (Al Mu'minuun 23:91)
Allah berfirman,
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ
لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلْعَزِيزُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab:
"Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui".” (Az Zukhruf 43:9)
Keyakinan kaum musyrikin meyakini bahwasanya mereka meyakini rububiyah
Allah namun secara globalnya saja, dalam beberapa perincian rububiyah-nya
mereka tetap melakukan perbuatan syirik.
Keimanan yang pasti adalah bahwasanya Allah saja Tuhan yang hak, dan
tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Beriman kepada Uluhiyah Allah
Makna Ilaah adalah المعبود (yang disembah).
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ
وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ
حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ
كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ
“Dan sungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah
(saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada
orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka
bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl 16:36)
Hakikat Ibadah adalah
كمال المَحَبة،
مع مال التذلل، والخضوع، والتع يم
Kecintaan dan penghambaan diri
yang total beserta perendahan diri dan pengagungan kepada Allah.
Definisi Ibadah menurut
Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah,
إسمٌ جامعٌ لكلِّ ما يحبه الله و
يرضه مِن الأقوال و الأعمال و الظاهرة و الباطنةِ
Nama untuk sesuatu yang Allah
cintai dan ridhai baik itu berupa ucapan dan perbuatan yang nampak maupun yang
tersembunyi.
Bagaimana cara mengetahui sesuatu
itu ibadah atau bukan, yaitu dengan melihat kepada dalil.
Tujuan beriman kepada
uluhiyyah Allah adalah memberikan semua jenis ibadah hanya kepada Allah
semata.
Jenis-jenis ibadah :
1.
Ibadah hati (القلبية)
Allah berfirman,
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ
“Dan diantara
manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (Al
Baqarah 2:165)
Cinta adalah
ibadah hati, cinta yang dimaksud adalah cinta yang ada unsur pengagungan dan
penghinaan diri.
2.
Ibadah lisan (القولية)
وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟
مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا
“Dan
sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru
seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”
(Al Jin 72:18)
3.
Ibadah badan (البدنية)
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ
وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al An'aam 6:162)
4. Ibadah harta (المالية)
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا
نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu
hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan
dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (Al Insaan 76:9)
Dampak dari perbuatan kesyirikan :
1. Tidak diampuni dosanya
oleh Allah
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ
وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ
إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni
dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa 4:48)
2. Diharamkan baginya
surga
إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ
حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,” (Al
Ma'idah 5:72)
Ayat ini berbicara tentang syirik akbar.
3. Dihapus amalannya
(hangus amalannya)
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan),
niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk
orang-orang yang merugi.” (Az Zumar 39:65)
4. Halal harta dan
darahnya
فَٱقْتُلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَيْثُ
وَجَدتُّمُوهُمْ
“..maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu
dimana saja kamu jumpai mereka,..” (At Taubah 9:5)
Artinya orang-orang yang musyrik darah dan
hartanya halal (tidak terjaga) adalah ketika ada seorang muslim yang membunuh
orang musyrik, maka orang muslim ini tidak dibunuh dengan sebab membunuh
seorang musyrik. Namun bukan artinya orang musyrik dalam setiap kondisi dia
dibunuh. Ada ketentuan-ketentuannya yang dibahas pada kitab Al Jinayaat.
Orang-orang yang tersesat dalam tauhid uluhiyyah :
1. Para penyembah berhala
2. Penyembah kubur (al
quburiyyun), maknanya bukan orang yang sering ziarah kubur. Maksudnya
adalah orang yang datang kepada kuburan dan meminta hajat-hajatnya kepada
kuburan, meminta kebutuhan-kebutuhannya dipenuhi oleh kuburan.
Istilah al quburiyyun ini familiar di
kalangan ulama di abad 12 H, seperti Imam Ash Shan’ani dalam kitab Tadzkiru
I’tiqad beliau juga membahasakan dengan bahasa al quburiyyun.
3. Tukang-tukang sihir
Menjaga diri dari pintu-pintu yang bisa mengarahkan kepada kesyirikan :
1. Tidak boleh ghuluw
(berlebih-lebihan) kepada orang shalih.
Yaitu memposisikan mereka di atas kedudukan
sebagai seorang hamba. Misal meyakini orang shalih itu pasti selalu benar,
karena manusia tidak mungkin selalu benar.
“Hati-hati kalian dari sikap ghuluw, karena
sesungguhnya yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw kepada
orang shalih.”
Mereka orang-orang yang shalih kita hormati
dan teladani, akan tetapi kita tidak bersikap berlebih-lebihan.
2. Terfitnah dengan
kuburan.
Maksudnya adalah memiliki perlakuan yang
keliru terhadap kuburan :
-
Menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid
Nabi ﷺ
bersabda, “Janganlah kalian jadikan kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid,
karena aku melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim)
Syaikh Shalih
Alu Syaikh memberikan tiga gambaran bagaimana menjadikan kuburan itu sebagai
masjid :
1.
Menjadikan gundukan kuburan sebagai tempat sujud, wajah kita bersujud
kepadanya.
2.
Menjadikan kuburan sebagai arah kiblat.
3.
Membangun bangunan masjid di atas kuburan.
-
Membangun sesuatu di atasnya
Dari Abul
Hayat al ‘Asadi, Ali bin Abi Thalib berkata, “Maukah aku utus pada sesuatu yang
Rasulullah mengutusku untuk itu? Jangan engkau tinggalkan patung kecuali engkau
telah hancurkan bagian kepalanya, tidak boleh kuburan ditinggikan (dibanding
yang lainnya) kecuali kamu samakan dengan yang lain (maksudnya : bukan berarti
kuburan disama ratakan dengan tanah, namun sunnah dari tanah kuburan adalah
ditinggikan kurang lebih satu jengkal)
-
Melakukan perjalanan jauh/ bersafar untuk mengunjunginya.
Rasulullah
bersabda, “Tidaklah melakukan safar kecuali ke tiga masjid (maksudnya : safar
untuk menjalankan ibadah di tempat-tempat yang dianggap memiliki keutamaan)”
3. Mengikuti orang musyrik
dalam kekhususan mereka.
Merupakan orang-orang musyrikin dalam
perkara-perkara yang merupakan karakter mereka, contoh : seorang yang muslim
yang menggunakan jubah berkalung salib.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Selisihilah orang-orang
musyrikin.” (Mutafaqun ‘alaih)
4. At Tashwiir (menggambar orang-orang shalih)
Rasulullah ﷺ bersabda, “Mereka itu apabila ada
orang-orang yang shalih mati di kalangan mereka, mereka membangun di atas
kuburannya suatu masjid. Lalu mereka menggambar gambar-gambar orang shalih itu
di masjid. Mereka itu makhluk terburuk di sisi Allah ta’ala.” (Mutafaqun
alaih)
5. Syirik dalam ucapan :
a.
Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah.
b.
Menyamakan dalam masyiah.
Contoh
perkataan, “Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu.” Jika ingin
menggandeng maka menggunakan kata ‘tsumma’.
c.
Menyandarkan perbuatan-perbuatan yang bersifat kauniyah kepada selain
Allah ta’ala. Contoh : menyandarkan hujan kepada bintang.
6. Syirik dalam ucapan :
a.
Menggunakan gelang untuk menolak/ mengangkat musibah
b.
Menggunakan jimat dan semisalnya
c.
Ruqyah dan azimah syirik serta tiwalah.
Tiwalah
adalah semacam pelet.
d.
Tathayyur dan tasyaum
Kesimpulan : terkait dengan misalnya memakai
benang untuk mengangkat bala, atau memakai jimat, ini semua bisa menjadi syirik
akbar apabila meyakini jimat-jimat itu lah bisa memberi manfaat atau mudharat.
Jenis-jenis Tawasul :
1. Syirik : bertawasul
kepada orang mati untuk memenuhi kebutuhan dan menghilangkan musibah.
2. Bid’ah : tawasul kepada
Allah dengan perkara yang tidak disyariatkan. Contoh : tawasul dengan menyebut jah
(kedudukan).
3. Yang disyariatkan :
a.
Bertawasul dengan iman kepada Allah
b.
Bertawasul dengan amal shalih
c.
Bertawasul dengan asma-ul husna
d.
Bertawasul dengan sifat-sifat Allah
e.
Bertawasul dengan doa orang shalih
Iman dengan Asmaa’ Wash Shifaat
Definisi :
Keyakinan yang mantap bahwasanya Allah ta’ala memiliki nama-nama yang
indah dan sifat-sifat yang Maha Tinggi, dan menetapkan apa yang Allah ta’ala
untuk diri-Nya dalam kitab-Nya dan apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam
sunnah-nya, berupa sifat-sifat yang sempurna dan agung tanpa tamtsil (meneyrupakan
dengan sifat makhluk), takyiif (memvisualisasikan), tahrif (memalingkan dari
makna zhahir-nya (tekstual) kepada makna muawwal (konstektual) tanpa
dalil), dan ta’thil (menolak sifat Allah). Dan meniadakan apa yang ditiadakan
Allah dari diri-Nya dalam kitab-Nya, atau apa yang ditiadakan oleh Nabi-Nya
dalam sunnah-nya, berupa sifat-sifat kekurangan, sifat-sifat aib, dan juga
sifat-sifat yang menyerupai makhluk-Nya.
Perbedaan tamtsil dan takyiif :
-
Tamtsil mengatakan, “Ini seperti ini.” (Ada sesuatu yang diserupakan)
-
Takyiif : menghayalkan tanpa menyamakan dengan sesuatu yang pernah dia
lihat.
Tahrif ada dua macam :
-
Tahrif lafzhiy : mengubah syakal/harakat
atau huruf
-
Tahrif ma’nawiy : mengubah
makna, misal yad diubah dengan qudrah.
Ta’thil ada dua macam :
-
Ta’thil juz-i : Menolak
sifat Allah secara keseluruhan
-
Menolak makna tekstual
Kaidah-kaidah tentang asma’
wash shifaat :
1. Taufiqiyyah, yaitu sebatas mengikuti dalil. Tidak boleh
seseorang menetapkan nama dan sifat Allah berdasar akal manusia.
2. Sifat-sifat yang didiamkan, tidak disebutkan dalam dalil, tidak
ditetapkan dalam dalil, dan tidak ditiadakan dalam dalil, maka :
a.
Apabila maknanya itu benar
maka ditetapkan maknanya.
b.
Apabila maknanya itu salah
maka ditolak lafazh atau maknanya.
3. Nama Allah berada di puncak keindahan/kesempurnaan, karena nama
Allah itu indah di semua sisi dan bahwasanya semua nama Allah itu mengandung
sifat.
4. Nama merupakan sebutan bagi Zat Allah dan sifat-Nya
5. Sifatnya sempurna dan tidak memiliki kekurangan dari sisi
manapun.
6. Maknanya haq dan wajib memahaminya sesuai dengan
zhahir/hakikatnya, bukan majasi.
7. Hal-hal yang harus dijauhi :
a.
At Ta-thil
b.
At Tamstsiil
c.
Al ibtida’ (inovasi),
memiliki pemikiran bid’ah dalam memahami sifat-sifat Allah ta’ala
d.
Menamakan selain-Nya dengan
nama-Nya. Seperti menamakan latta uzza.
8. Apa yang diminta :
a.
Berdoa dengannya, dengan
menyebut asma-ul husna, atau sifat-sifat yang maha agung.
b.
Menghitungnya
c.
Memahaminya
d.
Bertafakkur mengenainya,
maksudnya memikirkan pengaruh dari sifat-sifat Allah.
e.
Beramal sesuai dengan
maksudnya, maksudnya adalah mengerjakan konsekuensi yang dituntut dari
nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Misal : Allah mempunyai nama Al
Bashiir (Maha Melihat), maka kita jangan melakukan perbuatan buruk yang
mana perbuatan itu dilihat oleh Allah ta’ala. Allah memiliki nama As Sami’,
oleh karenanya kita jangan mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan
Allah.
Beriman dengan Asma’ wash
Shifaat
Macam-macam Sifat-sifat Allah
:
1. Sifat Dzaatiyyah, sifat yang senantiasa melekat kepada Allah.
Contoh : qudrah (kemampuan), sama’ (mendengar), bashar (melihat), yad (tangan),
dll.
2. Sifat Fi’liyyah, sifat yang berkaitan dengan masyi’ah dan
hikmah Allah.
Contoh-contoh sifat Allah :
1. Al ‘uluw (sifat tinggi), ada tiga macam :
a.
Al ‘uluw al qadr : kedudukan
Allah yang maha tinggi.
b.
Al ‘uluw al qahr : Allah
subhaanahu wa ta’ala Maha mengalahkan segalanya.
c.
Al ‘uluw adz dzaat : Dzat
Allah ada di tempat yang tinggi.
2. Al Istiwa
3. Al Kalam
Allah subhanaahu wa ta’ala berfirman,
“ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ “, Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan
Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat (Asy Syuura 42:11)
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ , “dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
(Al Ikhlash 112:4)
Orang-orang yang sesat di
dalam memahami asma wash shifaat :
1. Ahli tamtsil, orang yang memisalkan sifat Allah dengan sifat
makhluk
2. Ahli ta’thil, orang yang menolak sifat Allah
3. Ahli takwil, orang yang menolak makna tekstual menuju kepada
makna konstektual tanpa dalil
4. Ahli tajhil (mukhawidhah), mengatakan bahwasanya makna dari
sifat Allah ini tidak diketahui
Persamaan antara ahlu takwil dan
ahlu tajhil adalah dari satu sisi mereka mengatakan bahwasanya makna tekstual
itu tidak diinginkan oleh syariat. Ahlu takwil dan ahlu tafwidh sepakat dengan
ini. Jadi mereka mengatakan bahwasanya makna tekstual itu tidak diinginkan.
Perbedaan ahlu takwil dan ahlu
tajhil :
- Ahlu takwil menetapkan
adanya makna konstektual yang dimaksudkan, walaupun tanpa dalil.
- Ahlu tafwidh/ ahlu tajhil, mereka tidak menetapkan makna konstektual manapun.
