Langsung ke konten utama

Fiqhul Akbar (Bagian 3) - Iman Kepada Allah


Iman kepada Allah

Adalah iman yang pasti kepada wujud Allah, serta beriman bahwasanya Allah adalah Tuhan bagi segala sesuatu, satu-satunya yang berhak diibadahi yang disifati dengan sifat yang sempurna, dan disucikan dari segala sifat yang tidak pantas bagi-Nya.

Iman kepada Allah meliputi empat hal :

1.       Iman kepada Wujud Allah (meyakini bahwasanya Allah itu ADA)

2.       Iman kepada rububiyah Allah

3.       Iman kepada uluhiyah Allah

4.       Iman kepada asma’ wash shifaat

Sebagian ulama berpendapat bahwa iman kepada Allah hanya meliputi tiga hal, yaitu iman kepada ulihiyah, rububiyah dan asma’ wash shifaat. Sementara wujud Allah itu suatu hal yang PASTI yang tidak perlu dibahas. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Al Imam Abu Abdillah ‘Ubaidillah bin Muhammad bin Baththah al Ubbari al Hanbali (W : 387 H) dalam kitabnya Al Ibaanah.

Iman kepada Wujud Allah

Dalil-dalilnya :

1.       Fitrah yang lurus

Allah  berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Tetaplah di atas fitrah Allah (tetaplah di atas naluri yang Allah subhaanahu wa ta’ala ciptakan pada diri kalian) yang telah menetapkan manusia atas fitrah tersebut.”

2.       Akal yang sharih/jelas

Akal yang logis akan mengakui wujud Allah, sebagaimana firman Allah,

أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ

“Ataukah mereka tercipta tanpa asal usul, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri.”  (QS. Ath Thur : 35)

3.       Indera yang nyata (sesuatu yang dirasakan dan disaksikan dengan indera kita)

Maka mukjizat-mukjizat para rasul, dikabulkannya doa yang dikabulkan dari para orang yang berdoa, dihilangkannya kesulitan-kesulitan dari orang-orang yang sulit kemudian meminta kepada Allah; merupakan dalil-dalil yang bisa dirasakan yang mempersaksikan akan wujud Allah subhaanahu wa ta’ala.

4.       Syariat yang shahih

Adanya syariat yang benar yang mempersaksikan adanya Allah yang menurunkan syariat tersebut. Sebagaimana firman Allah, “Seandainya al Quran ini tidak datang dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang sangat banyak.”

Siapakah orang-orang yang mengingkari wujud Allah :

1.       Ad Dahriyyun

Orang-orang yang memiliki keyakinan bahwasanya alam semesta itu bersifat ‘azali (tidak ada permulaan) yang akan hancur jika sudah waktunya.

Allah menyinggung orang-orang seperti ini dalam firman-Nya :

وَقَالُوا۟ مَا هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهْرُ

Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa." (QS. Jatsiyah : 24)

2.       Ath Thaba’iyyun

Mereka yang berpendapat bahwasanya alam semesta terjadi secara natural.

3.       Ash Shadafiyyun

Berpendapat bahwa segala sesuatu terjadi karena kebetulan saja.

4.       Syuyu’iyyun

Berpendapat bahwa tidak ada Tuhan dan kehidupan adalah materi. Mereka adalah orang-orang komunis.

5.       Afraad Syuwaadz (Individu-individu yang ganjil/sesat pemahamannya)

Orang-orang yang tidak mengakui adanya Tuhan, namun juga tidak mengikuti orang-orang dahriyyun, tba’iyyun, shadafiyyun, ataupun syuyu’iyyun. Contohnya : fir’aun.

Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An Naml : 14)

Iman kepada Rububiyah Allah subhaanahu wa ta’ala

Tema bahasan Rububiyah :

1.       Penciptaan (الخلق) – Allah satu-satunya yang menciptakan alam semesta

“Allah subhaanahu wa ta’ala adalah pencipta segala sesuatu.”

2.       Kepemilikan (المِلك) – Allah satu-satunya yang memiliki alam semesta

“Dan tidak ada sekutu bagi Allah dalam kekuasaan-Nya”

3.       Perintah/Pengaturan alam semesta (الأمْرُ) – Allah satu-satunya yang mengatur alam semesta, “Sesungguhnya perintah Allah subhaanahu wa ta’ala apabila Dia berkehendak sesuatu (cukup) mengatakan ‘Kun (Jadilah)’, maka jadilah.” :

a.       Kauni

b.       Syar’i

Allah subhaanahu wa ta’ala sering disebut sebagai Rabb. Semisal orang berkata, “Yaa Rabbi”, maksudnya adalah, “Wahai Penciptaku, wahai Pemilikku, wahai Pengaturku”.

Dalil-dalil Rububiyah Allah :

1.       Fitrah (naluri manusia)

2.       Indera – al his (sesuatu yang bisa dirasakan)

3.       Akal

4.       Syariat (Al Quran dan As Sunnah)

Di antara secara akal akan rububiyah Allah subhaanahu wa ta’ala,

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al Baqarah 2:164)

Orang-orang tersesat dalam perkara rububiyah Allah :

1.       Ats Tsanawiyyah dan Al Manuwiyyah, adalah kelompok orang-orang yang meyakini ada dua pencipta, yaitu pencipta kebaikan dan pencipta kebaikan.

2.       Ahlu at Tatsliits, adalah orang nasrani. Mereka meyakini Tuhan itu satu yang terdiri dari tiga komponen (Tuhan bapa, ibu dan anak), pada akhirnya ini tidak bisa disebut satu.

3.       Sebagian musyrikin ‘Arab, mereka meyakini ada selain Allah yang bisa memberi manaat dan mudharat.

4.       Al Qadariyah An Nufaah, mereka menafi’kan perbuatan Allah kepada hamba-Nya. Mereka berkeyakinan bahwa perbuatan hamba adalah perbuatan hamba sendiri, bukan atas takdir Allah subhaanahu wa ta’ala. (Hamba mencipta perbuatan mereka sendiri)

Allah ta’ala berfirman,

مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” (Al Mu'minuun 23:91)

Allah berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلْعَزِيزُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".” (Az Zukhruf 43:9)

Keyakinan kaum musyrikin meyakini bahwasanya mereka meyakini rububiyah Allah namun secara globalnya saja, dalam beberapa perincian rububiyah-nya mereka tetap melakukan perbuatan syirik.

Keimanan yang pasti adalah bahwasanya Allah saja Tuhan yang hak, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

Beriman kepada Uluhiyah Allah

Makna Ilaah adalah المعبود  (yang disembah).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl 16:36)

Hakikat Ibadah adalah

كمال المَحَبة، مع مال التذلل، والخضوع، والتع يم

Kecintaan dan penghambaan diri yang total beserta perendahan diri dan pengagungan kepada Allah.

Definisi Ibadah menurut Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah,

إسمٌ جامعٌ لكلِّ ما يحبه الله و يرضه مِن الأقوال و الأعمال و الظاهرة و الباطنةِ

Nama untuk sesuatu yang Allah cintai dan ridhai baik itu berupa ucapan dan perbuatan yang nampak maupun yang tersembunyi.

Bagaimana cara mengetahui sesuatu itu ibadah atau bukan, yaitu dengan melihat kepada dalil.

Tujuan beriman kepada uluhiyyah Allah adalah memberikan semua jenis ibadah hanya kepada Allah semata.

Jenis-jenis ibadah :

1.       Ibadah hati (القلبية)

Allah berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (Al Baqarah 2:165)

Cinta adalah ibadah hati, cinta yang dimaksud adalah cinta yang ada unsur pengagungan dan penghinaan diri.

2.       Ibadah lisan (القولية)

وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al Jin 72:18)

3.       Ibadah badan (البدنية)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al An'aam 6:162)

4.       Ibadah harta (المالية)

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (Al Insaan 76:9)

Dampak dari perbuatan kesyirikan :

1.       Tidak diampuni dosanya oleh Allah

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa 4:48)

2.       Diharamkan baginya surga

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,” (Al Ma'idah 5:72)

Ayat ini berbicara tentang syirik akbar.

3.       Dihapus amalannya (hangus amalannya)

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar 39:65)

4.       Halal harta dan darahnya

فَٱقْتُلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ

“..maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka,..” (At Taubah 9:5)

Artinya orang-orang yang musyrik darah dan hartanya halal (tidak terjaga) adalah ketika ada seorang muslim yang membunuh orang musyrik, maka orang muslim ini tidak dibunuh dengan sebab membunuh seorang musyrik. Namun bukan artinya orang musyrik dalam setiap kondisi dia dibunuh. Ada ketentuan-ketentuannya yang dibahas pada kitab Al Jinayaat.

Orang-orang yang tersesat dalam tauhid uluhiyyah :

1.       Para penyembah berhala

2.       Penyembah kubur (al quburiyyun), maknanya bukan orang yang sering ziarah kubur. Maksudnya adalah orang yang datang kepada kuburan dan meminta hajat-hajatnya kepada kuburan, meminta kebutuhan-kebutuhannya dipenuhi oleh kuburan.

Istilah al quburiyyun ini familiar di kalangan ulama di abad 12 H, seperti Imam Ash Shan’ani dalam kitab Tadzkiru I’tiqad beliau juga membahasakan dengan bahasa al quburiyyun.

3.       Tukang-tukang sihir

Menjaga diri dari pintu-pintu yang bisa mengarahkan kepada kesyirikan :

1.       Tidak boleh ghuluw (berlebih-lebihan) kepada orang shalih.

Yaitu memposisikan mereka di atas kedudukan sebagai seorang hamba. Misal meyakini orang shalih itu pasti selalu benar, karena manusia tidak mungkin selalu benar.

“Hati-hati kalian dari sikap ghuluw, karena sesungguhnya yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw kepada orang shalih.”

Mereka orang-orang yang shalih kita hormati dan teladani, akan tetapi kita tidak bersikap berlebih-lebihan.  

2.       Terfitnah dengan kuburan.

Maksudnya adalah memiliki perlakuan yang keliru terhadap kuburan :

-          Menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid

Nabi bersabda, “Janganlah kalian jadikan kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid, karena aku melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim)

Syaikh Shalih Alu Syaikh memberikan tiga gambaran bagaimana menjadikan kuburan itu sebagai masjid :

1.       Menjadikan gundukan kuburan sebagai tempat sujud, wajah kita bersujud kepadanya.

2.       Menjadikan kuburan sebagai arah kiblat.

3.       Membangun bangunan masjid di atas kuburan.

-          Membangun sesuatu di atasnya

Dari Abul Hayat al ‘Asadi, Ali bin Abi Thalib berkata, “Maukah aku utus pada sesuatu yang Rasulullah mengutusku untuk itu? Jangan engkau tinggalkan patung kecuali engkau telah hancurkan bagian kepalanya, tidak boleh kuburan ditinggikan (dibanding yang lainnya) kecuali kamu samakan dengan yang lain (maksudnya : bukan berarti kuburan disama ratakan dengan tanah, namun sunnah dari tanah kuburan adalah ditinggikan kurang lebih satu jengkal)

-          Melakukan perjalanan jauh/ bersafar untuk mengunjunginya.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah melakukan safar kecuali ke tiga masjid (maksudnya : safar untuk menjalankan ibadah di tempat-tempat yang dianggap memiliki keutamaan)”

3.       Mengikuti orang musyrik dalam kekhususan mereka.

Merupakan orang-orang musyrikin dalam perkara-perkara yang merupakan karakter mereka, contoh : seorang yang muslim yang menggunakan jubah berkalung salib.

Rasulullah bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrikin.” (Mutafaqun ‘alaih)

4.       At Tashwiir (menggambar orang-orang shalih)

Rasulullah bersabda, “Mereka itu apabila ada orang-orang yang shalih mati di kalangan mereka, mereka membangun di atas kuburannya suatu masjid. Lalu mereka menggambar gambar-gambar orang shalih itu di masjid. Mereka itu makhluk terburuk di sisi Allah ta’ala.” (Mutafaqun alaih)

5.       Syirik dalam ucapan :

a.       Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah.

b.       Menyamakan dalam masyiah.

Contoh perkataan, “Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu.” Jika ingin menggandeng maka menggunakan kata ‘tsumma’.

c.       Menyandarkan perbuatan-perbuatan yang bersifat kauniyah kepada selain Allah ta’ala. Contoh : menyandarkan hujan kepada bintang.

6.        Syirik dalam ucapan :

a.       Menggunakan gelang untuk menolak/ mengangkat musibah

b.       Menggunakan jimat dan semisalnya

c.       Ruqyah dan azimah syirik serta tiwalah.

Tiwalah adalah semacam pelet.

d.       Tathayyur dan tasyaum

Kesimpulan : terkait dengan misalnya memakai benang untuk mengangkat bala, atau memakai jimat, ini semua bisa menjadi syirik akbar apabila meyakini jimat-jimat itu lah bisa memberi manfaat atau mudharat.

Jenis-jenis Tawasul :

1.       Syirik : bertawasul kepada orang mati untuk memenuhi kebutuhan dan menghilangkan musibah.

2.       Bid’ah : tawasul kepada Allah dengan perkara yang tidak disyariatkan. Contoh : tawasul dengan menyebut jah (kedudukan).

3.       Yang disyariatkan :

a.       Bertawasul dengan iman kepada Allah

b.       Bertawasul dengan amal shalih

c.       Bertawasul dengan asma-ul husna

d.       Bertawasul dengan sifat-sifat Allah

e.       Bertawasul dengan doa orang shalih

Iman dengan Asmaa’ Wash Shifaat

Definisi :

Keyakinan yang mantap bahwasanya Allah ta’ala memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang Maha Tinggi, dan menetapkan apa yang Allah ta’ala untuk diri-Nya dalam kitab-Nya dan apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam sunnah-nya, berupa sifat-sifat yang sempurna dan agung tanpa tamtsil (meneyrupakan dengan sifat makhluk), takyiif (memvisualisasikan), tahrif (memalingkan dari makna zhahir-nya (tekstual) kepada makna muawwal (konstektual) tanpa dalil), dan ta’thil (menolak sifat Allah). Dan meniadakan apa yang ditiadakan Allah dari diri-Nya dalam kitab-Nya, atau apa yang ditiadakan oleh Nabi-Nya dalam sunnah-nya, berupa sifat-sifat kekurangan, sifat-sifat aib, dan juga sifat-sifat yang menyerupai makhluk-Nya.

Perbedaan tamtsil dan takyiif :

-          Tamtsil mengatakan, “Ini seperti ini.” (Ada sesuatu yang diserupakan)

-          Takyiif : menghayalkan tanpa menyamakan dengan sesuatu yang pernah dia lihat.

Tahrif ada dua macam :

-          Tahrif lafzhiy : mengubah syakal/harakat atau huruf

-          Tahrif ma’nawiy : mengubah makna, misal yad diubah dengan qudrah.

Ta’thil ada dua macam :

-          Ta’thil juz-i : Menolak sifat Allah secara keseluruhan

-          Menolak makna tekstual

Kaidah-kaidah tentang asma’ wash shifaat :

1.       Taufiqiyyah, yaitu sebatas mengikuti dalil. Tidak boleh seseorang menetapkan nama dan sifat Allah berdasar akal manusia.

2.       Sifat-sifat yang didiamkan, tidak disebutkan dalam dalil, tidak ditetapkan dalam dalil, dan tidak ditiadakan dalam dalil, maka :

a.       Apabila maknanya itu benar maka ditetapkan maknanya.

b.       Apabila maknanya itu salah maka ditolak lafazh atau maknanya.

3.       Nama Allah berada di puncak keindahan/kesempurnaan, karena nama Allah itu indah di semua sisi dan bahwasanya semua nama Allah itu mengandung sifat.

4.       Nama merupakan sebutan bagi Zat Allah dan sifat-Nya

5.       Sifatnya sempurna dan tidak memiliki kekurangan dari sisi manapun.

6.       Maknanya haq dan wajib memahaminya sesuai dengan zhahir/hakikatnya, bukan majasi.

7.       Hal-hal yang harus dijauhi :

a.       At Ta-thil

b.       At Tamstsiil

c.       Al ibtida’ (inovasi), memiliki pemikiran bid’ah dalam memahami sifat-sifat Allah ta’ala

d.       Menamakan selain-Nya dengan nama-Nya. Seperti menamakan latta uzza.

8.       Apa yang diminta :

a.       Berdoa dengannya, dengan menyebut asma-ul husna, atau sifat-sifat yang maha agung.

b.       Menghitungnya

c.       Memahaminya

d.       Bertafakkur mengenainya, maksudnya memikirkan pengaruh dari sifat-sifat Allah.

e.       Beramal sesuai dengan maksudnya, maksudnya adalah mengerjakan konsekuensi yang dituntut dari nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Misal : Allah mempunyai nama Al Bashiir (Maha Melihat), maka kita jangan melakukan perbuatan buruk yang mana perbuatan itu dilihat oleh Allah ta’ala. Allah memiliki nama As Sami’, oleh karenanya kita jangan mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah.

Beriman dengan Asma’ wash Shifaat

Macam-macam Sifat-sifat Allah :

1.       Sifat Dzaatiyyah, sifat yang senantiasa melekat kepada Allah. Contoh : qudrah (kemampuan), sama’ (mendengar), bashar (melihat), yad (tangan), dll.

2.       Sifat Fi’liyyah, sifat yang berkaitan dengan masyi’ah dan hikmah Allah.

Contoh-contoh sifat Allah :

1.       Al ‘uluw (sifat tinggi), ada tiga macam :

a.       Al ‘uluw al qadr : kedudukan Allah yang maha tinggi.

b.       Al ‘uluw al qahr : Allah subhaanahu wa ta’ala Maha mengalahkan segalanya.

c.       Al ‘uluw adz dzaat : Dzat Allah ada di tempat yang tinggi.

2.       Al Istiwa

3.       Al Kalam

Allah subhanaahu wa ta’ala berfirman, “ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ “, Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat (Asy Syuura 42:11)

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ , “dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlash 112:4)

Orang-orang yang sesat di dalam memahami asma wash shifaat :

1.       Ahli tamtsil, orang yang memisalkan sifat Allah dengan sifat makhluk

2.       Ahli ta’thil, orang yang menolak sifat Allah

3.       Ahli takwil, orang yang menolak makna tekstual menuju kepada makna konstektual tanpa dalil

4.       Ahli tajhil (mukhawidhah), mengatakan bahwasanya makna dari sifat Allah ini tidak diketahui

Persamaan antara ahlu takwil dan ahlu tajhil adalah dari satu sisi mereka mengatakan bahwasanya makna tekstual itu tidak diinginkan oleh syariat. Ahlu takwil dan ahlu tafwidh sepakat dengan ini. Jadi mereka mengatakan bahwasanya makna tekstual itu tidak diinginkan.

Perbedaan ahlu takwil dan ahlu tajhil :

-  Ahlu takwil menetapkan adanya makna konstektual yang dimaksudkan, walaupun tanpa dalil.

- Ahlu tafwidh/ ahlu tajhil, mereka tidak menetapkan makna konstektual manapun.  


Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...