Langsung ke konten utama

Fiqhul Akbar (Bagian 2) - Asas Akidah


Asas Akidah

Pembahasan akidah itu ada 3 macam, hal ini disampaikan oleh Syaikh DR. Aiman bin Musa :

1.       Rukun Iman, yang disebut dengan asas akidah

2.       Furu’ dalam rukun iman

Contoh :

-          Pembahasan akidah kepada Allah adalah asas akidah. Didalamnya ada pembahasan cabang yaitu terkait dengan sifat as saaq (betis), apakah sifat as saaq ditetapkan untuk Allah atau tidak ini adalah pembahasan cabang.

-          Iman kepada Rasul merupakan asas akidah. Didalamnya ada pembahasan cabangnya yaitu tentang berapa jumlah para Nabi dan Rasul.

-          Tentang pembahasan isra’ mi’raj, apakah Rasulullah melihat Allah ta’ala secara langsung atau tidak.

3.       Persoalan-persoalan penting yang mana ahlul haq menyelisihi ahlul bathil disitu.

Dan ini tidak masuk dalam kategori ushul/asas akidah. Contoh :

-          Tentang karamah para wali

Asas akidah ada 6 :

1.       Iman kepada Allah

2.       Iman kepada malaikat

3.       Iman kepada para Rasul

4.       Iman kepada kitab-kitab Allah

5.       Iman kepada hari akhir

6.       Iman kepada takdir

Dalilnya :

1.       Firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ

“..akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..” (QS. Al Baqarah : 177)

2.       Hadits Jibril : Dimana Rasulullah berkata kepada Jibril ‘alaihissalam tatkala bertanya kepada Rasulullah apa itu iman, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat Allah, kitab-kitab Allah, para rasul-rasul Allah, hari akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

3.       Firman Allah subhaanahu wa ta’ala :

وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

“..Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa : 136)

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...