Langsung ke konten utama

Hikmah dari ‎Kata ‎'Abu' ‏dan ‎'Walid'

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono

Dalam bahasa Arab, kata 'abû' (أبو) dan 'wâlid' (والد) memiliki arti yang sama yaitu ayah. Namun terdapat perbedaan dari dua kata tersebut, yakni kata 'wâlid' digunakan untuk menunjukkan bahwa ayah yang dimaksud adalah AYAH KANDUNG. Sementara kata 'abû' belum tentu menunjukkan sebagai ayah kandung, sebagaimana tradisi bangsa Arab, mereka terkadang juga menyebut kakek ataupun paman beliau dengan 'abû'.

Nah, jika kaidah diatas dikaitkan dengan hadits dari Anas bin Malik, bahwa ada salah seorang yang bertanya kepada Nabi shalallâhu 'alaihi wasallam, 

يا رسول , أين أبي؟

"Wahai Rasulullâh, dimana ayahku?"

Rasulullâh menjawab,

في النار

"Di neraka"

Ketika orang tersebut berpaling, Rasulullâh memanggilnya lantas berkata,

إن أبي وأباك في النار

"Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka." (HR. Muslim)

Maka yang dimaksud oleh Nabi dalam riwayat diatas yang disebut "Ayahku" bukan berarti ayah kandung Nabi, namun yang dimaksudkan adalah paman beliau Abu Thalib. 

Karena adanya hadits-hadits yang shahih yang meriwayatkan tentang keadaan Abu Thalib, paman Nabi, sebelum meninggalnya dan kelak di akhirat.

Sementara ayahanda dan ibunda Nabi shalallâhu 'alaihi wasallam merupakan ahlu fatrah, yaitu orang-orang yang hidup di zaman fatrah. Syaikh Masyhûr bin Hasan Alu Salmân hafizhahullah mengatakan, “Yang benar,  ahlu fatrah adalah orang-orang  yang hidup di antara dua rasul. Rasul yang pertama tidak diutus kepada mereka (yakni dakwahnya tidak sampai ke masa hidup mereka-red), dan mereka belum menemui rasul yang kedua.”

Dalam kitab suci al-Qur’ân, yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla : 

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

"Wahai ahli kitab, sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada kamu, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika fatrah (terputus pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu." [al-Mâidah/5:19]

Kalimat fatrah dalam ayat diatas adalah zaman sesudah Nabi Isa Alaihissallam dan sebelum Nabi Muhammad diutus, sebagaimana dikatakan oleh para Ulama’ ahli tafsir.

Wallaahu a'lam.

====================

Faidah diambil dari Kajian Pelajaran 'Al 'Arabiyah Bayna Yadayk', Pemateri : Al Ustadz Muhammad Rivaldy Abdullah (Pengasuh Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Referensi tentang pengertian ahlu fatrah: https://almanhaj.or.id/4780-siapa-ahlul-fatrah.html#_ftn1

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...