Langsung ke konten utama

Wahai Jiwa yang Tenang


Kisah seseorang yang dikaruniai ketenangan hati dan keteguhan Iman oleh Allah
Al-Hafizh Muhammad bin Al-Mundzir Al-Harawi yang dikenal dengan Asy-Syukri di dalam kitab 'Al-Ajaib' dengan sanadnya dari Qubats bin Razin Abu Hasyim, ia berkata,

"Aku pernah menjadi tawanan di negeri Romawi Lalu sang raja mengumpulkan kami dan menawarkan agamanya. Siapa yang menolak, maka lehernya dipenggal, sehingga ada tiga orang yang murtad. Ketika orang yang keempat datang, dia menolak sehingga lehernya dipenggal dan kepalanya dilempar ke sebuah sungai.
Kepala itu tenggelam ke dalam air, namun tiba-tiba ia muncul di permukaan dan melihat ke arah tiga orang yang murtad itu seraya berkata, 'Wahai-fulan, wahai fulan, wahai fulan...' dengan memanggil nama-nama mereka. 'Allah telah berfirman di dalam Kitab-Nya,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
'Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.'
Kemudian kepala tersebut kembali tenggelam ke dalam air. Setelah kejadian itu, hampir-hampir seluruh kaum Nashrani memeluk Islam dan runtuhlah singgasana sang raja.
Adapun tiga orang yang murtad itu akhirnya kembali lagi ke dalam Islam. Lalu datang tebusan dari Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur sehingga kami pun bebas."
Doa agar jiwa senantiasa tenang
Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan di dalam tarjamah Rawahah binti Abi Amru Al-Auza'i dari ayahnya, Sulaiman bin Habib Al-Muharibi telah menceritakan kepadaku, Abu Umamah telah menceritakan kepadaku. bahwasanya Rasulullah pernah berkata kepada seseorang,
"قُلِ اللَّهُمَّ، إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطَمْئِنَةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ"
"Ucapkanlah. 'Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-inatan tu'minu bi liqaika wa tardha bi qadhaika wa taqna'u bi atha'ika'
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang senantiasa merasa tenang dengan-Mu, yang meyakini perjumpaan dengan-Mu, ridha terhadap ketetapan-Mu dan merasa puas dengan pemberian-Mu'."

Referensi : Tafsir Ibnu Katsir

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...