Langsung ke konten utama

The Real Thalibul Ilmi


Ilmu lebih berharga dibandingkan harta

Ketika seseorang memiliki ilmu, maka ilmu akan menjaga dirinya. Namun jika yang dikumpulkan hanya harta, maka akan semakin menyibukkan seseorang itu untuk menjaga hartanya.

Nabi saw di setiap paginya memanjatkan doa, 

اللهم إن أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

"Allaahumma inni as-aluka 'ilman nafi'an wa rizqan thayyiban wa 'amalan mutaqabbaalan"

Artinya : "Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima."

Yang dikedepankan oleh Nabi saw adalah adalah permintaan ilmu yang bermanfaat, karena rezeki tidak akan menjadi baik kecuali dengan didasari ilmu yang baik. Dan seseorang tidak akan tahu mana amalan yang diterima dan baik di sisi Allah SWT.

Imam Asy Syafi'i pernah berkata, "Barang siapa yang menginginkan kebaikan di dunianya, maka ilmu yang harus dituntut. Dan barang siapa yang menginignkan kebaikan akhiratnya maka ilmu yang harus dituntut."

Dan juga ingatlah sabda Nabi saw yang artinya, "Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan pahamkan dia tentang ilmu agama."

Serta dalam Shahih Al Bukhari, dari 'Utsman bin 'Affan, "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya." Maka mereka itulah manusia terbaik di muka bumi ini.

Dan kemuliaan seorang 'alim di atas seorang ahli ibadah, seperti kemuliaan bulan purnama dengan bintang-bintang yang lain.

Allah mengangkat kedudukan orang yang beriman dan kedudukan orang yang memiliki ilmu beberapa derajat.

Rasulullah saw bersabda, 

إنَّ الأنْبِياءَ لَمْ يُورِّثُوا دِينَاراً وَلا دِرْهَماً وإنَّما ورَّثُوا الْعِلْمَ، فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam tidak mewariskan emas maupun perak, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kisah para salaf dalam menuntut ilmu

Jabir ibnu 'Abdillah berjalan dengan perjalanan satu bulan perjalanan untuk bertemu 'Abdullah ibnu Unais untuk mengambil darinya satu hadits.

Al Kisai, ulama dalam ilmu nahwu, di awal dia belajar mendapat kesulitan yang sangat banyak. Namun pada akhirnya Allah memperlihatkan seekor semut, yang membawa gula dibawa ke tembok dan gulanya jatuh. dan semut itu turun lagi dan mencobanya berulang-ulang secara terus menerus. Hal tersebut mengispirasi beliau untuk terus semakin giat belajar dan Allah menjadikan beliau ulama besar di bidang bahasa arab.

'Abdullah bin 'Abbas mendatangi rumah Ubay bin Ka'ab. Dan ketika sudah sampai di rumah Ubay bin Ka'ab, ternyata dia sedang dalam keadaan tidur. 'Abdullah bin 'Abbas pun menunggu di depan rumah Ubay bin Ka'ab hingga dia bangun dari tidurnya untuk mengambil hadits darinya.

Sa'id bin Al Musayyib berkata, "Aku berjalan berhari-berhari untuk bertemu seorang ulama hadits dengan tujuan untuk memastikan satu hadits dari Rasulullaah saw.

Dari Ismail bin Yahya, "Aku mendengar Imam Syafi'i berkata, 'Aku mengahfal al Quran pada umur 7 tahun, dan aku menghafal Al Muwatha' Imam Malik pada umur 12 tahun.'"

Dan di riwayat yang lain, Imam Syafi'i telah diangkat menjadi mufti pada saat umur beliau belum sampai 20 tahun.

Dari 'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, "Berkata Abu Zur'ah, 'Ayahmu menghafal 1000 - 1000 hadits (maksudnya 1 juta hadits)'".

Dari Abdullah bin Nafi', "Aku duduk bermajelis dengan Imam Malik selama 35 tahun. Dan beliau saat itu sudah menjadi seorang alim, ahli hadits, dan ahli fiqh. Namun beliau masih merasa tidak puas dengan ilmu yang dimiliki."

Dari Jarir ibnu 'Abdillah, "Aku duduk belajar dengan Hasan selama 7 tahun, dan aku tidak pernah sekalipun keluar dari majelisnya (tidak pernah alpa)."

Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang dialami ulama para ulama salaf yang lain.

Hikmah yang bisa diambil dari penggalan kisah-kisah di atas adalah bahwa semangat dan keseriusan dalam belajar akan membuahkan hasil yang luar biasa. Serta akan memberikan manfaat atas ilmu yang dimilikinya kepada generasi selanjutnya.

Futur dalam belajar

Terkadang dalam belajar, seorang penuntut ilmu juga merasakan futur (rasa malas).

Futur terbagi dua :

Yang pertama, Futur thabi'i, yaitu bersifat kelelahan, maka kita butuh istirahat sesaat.

Yang kedua, Futur yang dikarenakan dosa dan maksiat yang menyebabkan lemahnya semangat dalam belajar. Maka kita harus membersihkan hati, bertakwa kepada Allah agar Allah memberi kita ilmu. Karena Allah tidak akan memberi ilmu kepada hati yang banyak bermaksiat kepada-Nya.

Dan agar istiqamah dalam belajar, maka kita harus mengetahui akan bahaya kebodohan dan kejahilan.

Allah berfirman, 

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al A'raf : 179)

Ibnul Qayyim berkata, "Manusia yang paling banyak di nerakanya Allah adalah orang yang jahil dan bodoh dari ilmu."

Ilmu yang sedang kita pelajari hari ini tidak hanya sekedar untuk menambah wawasan, namun utamanya diharapkan bisa menyelamatkan diri sendiri dan orang lain dari kejelakan di dunia maupun di akhirat kelak.

____________________________________________________________

Catatan Kajian dengan tema The Real Thalibul 'Ilmi,  Pemateri : Al Ustadz Harits Abu Naufal (Alumni Darul Hadits Yaman)





Postingan populer dari blog ini

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...