Beriman kepada
Rasul-rasul Allah
Adalah iman yang pasti bahwa
Allah memilih dari manusia segolongan laki-laki yang diberikan pada mereka
wahyu dan diutus sebagai pemberi kabar gembira, peringatan, dan menyampaikan
risalah kepada manusia dan jin untuk beribadah kepada Allah saja dan
meninggalkan thaghut, sebagai rahmat dan penegakan hujjah bagi mereka.
Allah ta’ala berfirman,
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَٰهَآ إِبْرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ
ۚ نَرْفَعُ دَرَجَٰتٍ مَّن نَّشَآءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami
berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami
kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.” (Surat Al-An’am Ayat 83)
وَوَهَبْنَا
لَهُۥٓ إِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ
ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ دَاوُۥدَ وَسُلَيْمَٰنَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ
وَهَٰرُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan Kami telah menganugerahkan
Ishak dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri
petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan
kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf,
Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.” (Surat Al-An’am Ayat 84)
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
“Dan Zakaria, Yahya, Isa dan
Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.” (Surat Al-An’am Ayat 85)
وَإِسْمَٰعِيلَ وَٱلْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا
فَضَّلْنَا عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ
“Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan
Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),” (Surat
Al-An’am Ayat 86)
Konsekuensi Iman kepada Rasul
:
1. Beriman bahwa mereka benar-benar diutus oleh Allah murni dari
kehendak-Nya dan hikmah-Nya.
Allah ta’ala
berfirman, وَإِذَا جَآءَتْهُمْ ءَايَةٌ قَالُوا۟
لَن نُّؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَآ أُوتِىَ رُسُلُ ٱللَّهِ ۘ ٱللَّهُ
أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُۥ
“Apabila datang
sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman
sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan
kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia
menempatkan tugas kerasulan.”
Tidak bisa
kerasulan itu didapatkan dari usaha.
2. Beriman dengan seluruh Rasul baik yang diketahui namanya dengan
iman yang rinci, maupun yang tidak diketahui namanya dengan iman yang global.
Allah ta’ala
berfirman, وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن
قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan
sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara
mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang
tidak Kami ceritakan kepadamu.”
3. Membenarkan para Rasul dan menerima khabar yang mereka sampaikan
dari Allah.
Allah ta’ala
berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَكُمُ ٱلرَّسُولُ
بِٱلْحَقِّ مِن رَّبِّكُمْ فَـَٔامِنُوا۟ خَيْرًا لَّكُمْ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟
فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
“Wahai manusia,
sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa)
kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu.
Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun)
karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah.”
(QS. An-Nisa : 170)
4. Mentaati, mengikuti, dan berhukum dengan kepada mereka.
Allah ta’ala
berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ
يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ
حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya)
tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An Nisa : 65)
5. Memberikan wala’,
mencintai, menghormati, dan memberikan salam kepada mereka.
Allah ta’ala berfirman, لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ
وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ
“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)nya, membesarkan-nya.” (QS. Al Fath : 9)
Ada perbedaan pendapat di antara para ulama
dalam penafsiran ayat ini. Ada ulama yang mengatakan bahwasanya dhamir هُ dari kata وَتُعَزِّرُوهُ
وَتُوَقِّرُوهُ
ini kembalinya kepada Allah, dan ada yang mengatakan kembalinya kepada Rasul.
Yang nampak dari muqarrar ini adalah termasuk yang mengikuti pendapat bahwa
dhamir هُ kembalinya kepada Rasul.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang di
antara kalian hingga kalian menjadikan aku sebagai yang paling dicintai
dibandingkan kepada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (Mutafaqun
‘alaihi)
Terkait keimanan kepada Allah, kepada kitab, kepada Rasul terbagi
menjadi dua :
1. Keimanan secara global,
ini hukumnya wajib.
Kita beriman kepada Allah, sebagai Tuhan
yang mencipta, mengatur, menguasai, yang berhak disembah, memiliki nama-nama
yang indah dan sifat-sifat yang sempurna itu adalah wajib.
2. Keimanan secara
terperinci, ini hukumnya mustahab.
Sementara iman secara terperinci ini adalah
rincian-rinciannya, dalil-dalilnya. Sunnah bagi kita untuk mengetahuinya lebih
dalam. Tapi seandainya kita sudah mengetahui informasi lebih detail tentang
Allah, Rasulullah, kitab suci, maka wajib bagi kita untuk mengimaninya.