Langsung ke konten utama

Fiqhul Akbar (Bagian 4) - Iman Kepada Malaikat


Iman Kepada Malaikat

Allah ta’ala berfirman,

لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“..dan (mereka) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim 66:6)

Ulama tafsir mengatakan mereka (para malaikat) melakukan apapun yang diperintahkan oleh Allah. Tidak ada satupun perintah yang mereka tidak kerjaan.

Kandungan iman kepada malaikat adalah :

1.       Mengimani akan wujudnya

2.       Mengimani akan nama-namanya

3.       Mengimani akan sifat-sifatnya

4.       Mengimani akan tugas-tugasnya

Malaikat adalah hamba yang mulia

Allah ta’ala berfirman,

وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَٰنَهُۥ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ

“Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat - malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan,” (QS. Al Anbiyaa' 21:26)

لَا يَسْبِقُونَهُۥ بِٱلْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِۦ يَعْمَلُونَ

“mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al Anbiyaa' 21:27)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِۦ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al Anbiyaa' 21:28)

Maksud makna لَايَسْبِقُوْنَهُ بِالْقَوْلِ  adalah mereka tidak akan mendahului Allah dalam ucapan, maksudnya adalah mereka tidak akan berbicara kecuali yang diizinkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala.

Dan dikatakan, وَهُم بِأَمْرِهِۦ يَعْمَلُونَ maksudnya adalah mereka hanya mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Jadi jika Allah tidak memerintahkan, maka mereka tidak akan berbuat. Dan demikian pula jika Allah tidak memerintahkan untuk berkata sesuatu maka mereka tidak akan berbicara.

Malaikat diciptakan dari cahaya, memiliki sayap, bentuknya agung dan bermacam-macam

Dalilnya adalah :

“Aku (Allah) menciptakan malaikat dari nur (cahaya).”

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ جَاعِلِ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُو۟لِىٓ أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۚ يَزِيدُ فِى ٱلْخَلْقِ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Faathir 35:1)

Dari hadits, “Aku diizinkan untuk menceritakan tentang malaikat dari malaikat-malaikat Allah. Malaikat yang membawa ‘arsy, sesungguhnya antara syahmah (bagian bawah) telinganya dengan pundaknya sejauh perjalanan 700 tahun perjalanan menggunakan kuda yang paling bagus.”

Para malaikat ber-shaf-shaf dan senantiasa bertasbih kepada Allah. Allah ta’ala memberikan ilham kepada mereka untuk bertasbih kepada-Nya. Demikian pula Allah memberikan ilham kepada mereka untuk menjalankan perintah-Nya. Dan Allah memberikan anugrah kepada mereka kekuatan untuk menjalankan perintah-perintah tersebut.

Maksud ‘ber-shaf-shaf’, mereka pada saat menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala mereka senantiasa ber-shaf-shaf.

Allah ta’ala berfirman,

وَإِنَّا لَنَحْنُ ٱلصَّآفُّونَ

“dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah).” (QS. Ash Shaffaat 37:165)

وَإِنَّا لَنَحْنُ ٱلْمُسَبِّحُونَ

“Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).” (QS. Ash Shaffaat 37:166)

Dan Allah ta’ala berfirman,

وَلَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِندَهُۥ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ

“Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS. Al Anbiyaa' 21:19)

يُسَبِّحُونَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al Anbiyaa' 21:20)

Makhluk ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera, kecuali yang dikehendaki oleh Allah.

Allah ta’ala berfirman,

فَأَرْسَلْنَآ إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

“..lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (Maryam 19:17)

Diberikan tugas yang berbeda-beda disamping tugas utama mereka untuk senantiasa beribadah kepada Allah.

Di antara tugas para malaikat :

1.       Menurunkan wahyu

2.       Menjaga manusia

3.       Menguatkan dan menolong kaum muslimin

4.       Menanyai manusia di alam kubur

5.       Penjaga neraka

6.       Memelihara janin

7.       Menulis amalan manusia

8.       Mencabut ruh

9.       Meniup sangkakala

10.   Memintakan ampun bagi manusia

Postingan populer dari blog ini

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...