Langsung ke konten utama

Kadar Minimum dari Rukun Iman

Bismillaah

Walhamdulillaah wash-shalatu wassalamu 'ala Rasulillaah wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa baaraka wasallam

'Amma ba'du

Sebagaimana dalam hadits Jibril 'alaihissalam kita dapati bahwasanya Jibril 'alaihissalam bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tentang Iman, yang kemudian jawaban Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tersebut disimpulkan oleh para Ulama Islam sebagai Rukun Iman yang masyhur kita ketahui yaitu :

1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada para malaikat Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
4. Iman kepada para Rasul Allah
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada Qadha dan Qadar Allah yang baik maupun yang buruk

Dari pokok-pokok keimanan tersebut, ada kadar minimum yang seorang hamba WAJIB meyakininya. Dimana jika kadar tersebut tidak terpenuhi, mak tidak sah iman seorang hamba kepada Allah.

Kadar-kadar minimum dari rukun iman adalah sebagai berikut :

Iman Kepada Allah :
  1. meyakini bahwasanya Allah itu ADA
  2. meyakini bahwasanya Allah memiliki hak-hak rububiyah yakni : Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Memiliki, Maha Mengatur alam semesta ini.
  3. meyakini bahwasanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk diibadahi
  4. meyakini bahwasanya Allah memiliki Nama-nama dan Sifat-sifat yang Maha Sempurna

Iman Kepada para Malaikat :
  1. meyakini bahwasanya para malaikat Allah itu ADA
  2. meyakini bahwasanya Malaikat merupakan MAKHLUK Allah (maka karena dia adalah makhluk, dia tidak berhak untuk diibadahi)
  3. meyakini bahwasanya ada malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu

Iman Kepada Kitab-kitab Allah :
  1. meyakini bahwasanya Allah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para hamba pilihan-Nya
  2. meyakini bahwasanya isi dari kitab-kitab tersebut merupakan FIRMAN ALLAH
  3. meyakini bahwasanya tujuan diturunkan kitab-kitab tersebut adalah sebagai SISTEM HUKUM bagi manusia
  4. meyakini bahwasanya KITAB TERAKHIR yang diturunkan oleh Allah adalah AL QURAN, dan al Quran adalah PENYEMPURNA semua kitab sebelumnya

Iman Kepada para Rasul :
  1. meyakini bahwasanya BENAR ada sebagian manusia yang diangkat oleh Allah sebagai Rasul/ utusan
  2. meyakini bahwasanya yang namanya UTUSAN pasti memiliki pesan-pesan yang harus disampaikan
  3. meyakini bahwasanya pesan dibawah oleh para Rasul adalah mengajak seluruh manusia untuk beribadah kepada Allah semata
  4. meyakini bahwasanya rasul yang TERAKHIR adalah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam

Iman Kepada Hari Akhir :
  1. meyakini bahwasanya hari Akhir itu ADA, dimana hari dibangkitkan setelah kematian
  2. meyakini bahwasanya tujuan adanya hari akhir adalah sebagai ganjaran, yaitu bagi siapa yang timbangan kebaikannya lebih banyak maka dia mendapat surga. Dan yang timbangan keburukannya lebih banyak maka dia mendapat neraka.

Iman Kepada Qadha dan Qadar :
  1. meyakini bahwasanya Allah memiliki ILMU tentang segala takdir, Allah mengetahui apa yang belum terjadi, yang akan terjadi, yang sedang terjadi, yang telah terjadi, bagaimana terjadi.
  2. meyakini bahwasanya Allah telah menuliskan takdir. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya Allah telah menuliskan takdir 50 ribu tahun sebelum menciptakan alam semesta
  3. meyakini bahwasanya ketika takdir terjadi maka ini merupakan KEHENDAK ALLAH
  4. meyakini bahwaanya semua takdir adalah ciptaan Allah.

Disarikan dari Kajian Kitab Arba'in Nawawi yang diampu oleh Al Ustadz Fadhil Mulyono, B.Sc hafizhahullahu ta'ala

  

Postingan populer dari blog ini

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Nasihat, bukan Ghibah

Abdullāh bin Ahmad رحمه الله berkata: Abū Turāb An-Nakhshabī datang menemui ayahku — semoga Allah merahmatinya — lalu ayahku mulai berkata: "Si fulan itu lemah (dalam meriwayatkan hadis), si fulan itu terpercaya." Maka Abū Turāb berkata: "Wahai Syaikh, janganlah menggunjing para ulama." Lalu ayahku (yaitu Imam Ahmad) menoleh kepadanya dan berkata: "Celaka kamu, ini adalah nasihat, bukan ghibah (menggunjing)." Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dahulu membedakan antara ghibah (menggunjing) dan nasihah (nasihat atau peringatan demi kebaikan umat). Imam Ahmad dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ilmu hadis. Ketika beliau menyebutkan bahwa seseorang "lemah" (da'if) atau "terpercaya" (tsiqah), itu bukan karena ingin menjatuhkan orang tersebut secara pribadi, tetapi karena penting bagi umat untuk mengetahui kualitas perawi hadis agar tidak menyampaikan hadis yang lemah atau palsu. Abū Turāb An-Nakhshabī mengira...