Langsung ke konten utama

Hikmah tentang Penjagaan Allah Kepada Hamba-Nya

Kami mendengarkan nasihat dari Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullahu ta'ala tentang Bagaimana Cara Allah Menjaga Kita (hamba-Nya)

Dijelaskan bahwa dalam hal penjagaan Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam urusan dunia, Allah tidak melihat hamba tersebut dalam keadaan taat atau tidak, beriman atau tidak. Contoh : seseorang yang akan melakukan perjalanan dari kota A ke kota B menaiki pesawat terbang. Si Fulan sebelum berangkat dia sudah shalat Subuh, dan si Allan tidak shalat Subuh. Namun sama Allah keduanya dijaga dalam perjalanannya sama-sama sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Sehingga PENJAGAAN dari Allah yang PALING UTAMA adalah ketika ALLAH MENJAGA IMAN DAN AGAMA KITA.

Dalam rangkaian nasihat dari beliau hafizhahullahu ta'ala, juga dikisahkan beberapa pengalaman hamba-hamba Allah yang secara garis besarnya peristiwa yang terjadi adalah ketika ketetapan Allah tidak sejalan dengan rencana hamba-Nya. Setelah diketahui pasca kejadiannya, barulah tahu ternyata Allah sedang menjaga hamba tersebut dari maksiat.

Kemudian kami pribadi jadi ingat kisah seorang Ayah yang pernah mengikuti fit & proper test untuk menjadi seorang Kepala Daerah di suatu kota di Jawa Tengah. Pada masa itu, pemilihan kepala daerah belum menggunakan sistem pilkada langsung seperti sekarang ini. Namun kepala daerah dipilih oleh anggota DPRD di masih-masing kotanya.

Ada 2 calon kuat yang menjadi kandidat kepala daerah, si Ayah tersebut dan satu orang yang lain.

Setelah menjalani tes, di belakang layar ternyata ada anggota dewan yang menawarkan 'jalan' supaya mulus dan terpilih dengan cara memberikan sejumlah uang kepada para anggota dewan. 

Tindakan yang dipilih oleh sang Ayah tersebut beliau MENOLAK MENTAH-MENTAH untuk memberikan sejumlah uang tersebut. Dan sementara itu calon yang lain bersedia memberi sejumlah uang kepada anggota dewan.

Maka sudah bisa ditebak siapa yang akhirnya terpilih sebagai kepala daerah. Namun ternyata itu adalah bentuk penjagaan Allah kepada sang Ayah tersebut dari kemaksiatan, karena selang beberapa lama terungkaplah kasus suap pemilihan kepala daerah tersebut dan akhirnya si orang yang terpilah sebagai kepala daerah tersebut dimasukkan ke dalam penjara. Subhanallah.

Masih dari kisah sang Ayah tersebut. Ini kisah ketika beliau pensiun dari pekerjaan beliau. Banyak sekali tawaran-tawaran kepada beliau mulai dari menjadi anggota partai yang bisa menjanjikan untuk jadi anggota dewan, ada pula yang menawari sebagai direktur sebuah BPR, dan ditawari pula sebagai staff ahli gubernur dan tawaran-tawaran menggiurkan yang lain.

Namun dengan izin Allah, beliau tetap memilih untuk pensiun dan kemudian Allah memberi Taufiq kepada beliau untuk berkhidmat kepada masjid di dekat rumah beliau, hingga beliau dikenal di akhir hidupnya sebagai ahlul masjid, insyaallah. Demikianlah dalam pandangan kami yang fakir ini, hal tersebut adalah penjagaan Allah kepada beliau rahimahullah agar beliau dapat fokus ke dalam ketaatan di akhir kehidupan beliau. Subhanallah.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan beliau semasa hidupnya. Dan semoga Allah merahmati beliau. Dan semoga Allah kelak mengumpulkan kami di surga -Nya subhanahu wa ta'ala.

Postingan populer dari blog ini

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...