Langsung ke konten utama

FIQH ISLAM SEBELUM ERA 4 MADZHAB : Ahli Fiqih dan Mufti di Masa Sahabat (8)

Penulis : Yusuf Apriono, ghafarallahu 'alaihi wa ahlihi

Ahli Fiqih dan Mufti di Masa Sahabat

Dalam Khulashah Tarikh At Tasyri’ Wa Marahilihi Al Fiqhiyyah, karya Abdullah bin Abdul Muhsin Ath Thariqi hal. 49 dan seterusnya disebutkan para sahabat yang paling banyak berfatwa yaitu :

1.      Umar bin Khaththab

2.      Ali bin Abi Thalib

3.      Abdullah bin Mas’ud

4.      Aisyah Ummul Mukminiin

5.      Zaid bin Tsabit

6.      Abdullah bin Abbas

7.      Abdullah bin Umar

Dalam Tarikh At Tasyri’ Al Islami karya Manna’ Al Qath-than hal. 41 – 42 disebutkan : Orang yang paling banyak berfatwa dari kalangan sahabat baik sahabat kibar maupun shighar dari mereka semua ada 7 orang yang paling banyak berfatwa pada saat mereka hidup, yakni :

1.      ‘Umar bin Khaththab

2.      Ali bin Abi Thalib

3.      Abdullah bin Mas’ud

4.      ‘Aisyah Ummul Mukminiin

5.      Zaid bin Tsabit (Anshar)

6.      ‘Abdullah bin ‘Abbas

7.      ‘Abdullah bin ‘Umar

Dari semua ini yang dari kalangan Anshar cuma 1 yakni Zaid bin Tsabit.

Ada sahabat juga yang berfatwa namun tidak sebanyak kelompok yang pertama, yakni : Abu Bakar Ash Shiddiq, Ummu Salamah, Utsman bin Affan, Abu Said Al Khudri, Abu Musa Al Asy’ari, Jabir bin Abdillah, Muadz bin Jabbal, Abdullah bin Amr bin Ash dan Abdullah bin Az Zubair.

Dan sahabat yang berfatwa namun tidak banyak atau sedikit dan kadang-kadang hanya 1 atau 2 fatwa saja yang terekam dari mereka diantaranya adalah : Abu Darda’, Abu Ubaidah bin Jarrah, Nu’man bin Basyir, Ubay bin Ka’ab, Abu Thal-hah, Abu Dzarr, Shafiyyah, Hafshah, Ummu Habibah, dan yang lainnya.

Perlu menjadi catatan bahwa sahabat Nabi jumlahnya ratusan ribu, hanya saja yang dikenal memiiki keahian berfatwa di kalangan mereka hanya sekitar puluhan orang saja. Dan dari puluhan orang tersebut yang paling banyak berfatwa hanya 7 orang saja. Ini menunjukkan bahwa sejak era sahabatpun, level keilmuan seseorang berbeda-beda. Ada yang bisa berijtihad dan berfatwa dan ada yang tidak. Walaahu a’lam.

Ada beberapa sahabat yang menjadi sosok sentral dalam tasyri’ dan fiqih di masing-masing negeri, yang akan berpengaruh untuk periode setelah mereka.

Dalam ‘Ilm Ushul Fiqh Wa Khulashah At Tasyri’ Al Islami, karya Abdul Wahhab Khallaf Hal 238 disebutkan :

Beberapa sahabat yang menjadi pusat dari Fiqh islam dari kalangan sahabat, yakni : Zaid bin Tsabit di Madinah Al Munawarah, Abdullah bin Abbas di Makkah, Abdullah bin Masud di Kuffah Irak, dan Abdullah bin Amr Al Ash di Mesir.

Ada yang menambahkan untuk di Madinah ada Abdullah bin Umar. Namun Zaid bin Tsabit lebih berpengaruh.

Abdullah bin Masud terpengaruh oleh fiqh-nya Umar dan Ali.

Jadi keempat sahabat diatas boleh dikatakan membangun madrasah atau madzhab. Jadi jika ada pertanyaan apa madzhab orang-orang sebelum era 4 madzhab itu ada, maka jawabannya ada sesuai sejarah diatas. 

====================

Penulisan bersumber dari Daurah Pengantar Mengenal Fiqh Islam, pemateri : Al Ustadz Muhammad Abduh Negara hafizhahullah, Direktur Ma'had Al Mubarak Banjarmasin.

Postingan populer dari blog ini

EMPAT KEUNTUNGAN DUDUK DI MAJELIS ILMU

Jika kita membaca penggalan dari hadits Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ،. Maka bisa kita ambil hikmah bahwa ada empat keuntungan duduknya seseorang di majelis ilmu : 1. Akan muncul ketentraman/ ketenangan hati bagi mereka yang duduk di majelis ilmu. Hati mereka merasa tenang ketika ayat-ayat al Quran maupun hadits-hadits Nabi dibacakan kepadanya, disertai penjelasannya dari para ahli ilmu yang mampu menggerakkan hati ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta mendorong kita untuk beramal dengan ilmu tersebut. 2. Rahmat Allah meliputi mereka yang duduk di majelis ilmu. Selama mereka duduk di majelis ilmu tersebut, maka Allah terus menurunkan rahmat kepada mereka. Keberuntungan...

Asal Kata ‎أيواه ‏(aiwah)

Sering dengar kan percakapan dalam bahasa Arab أيواه (aywah)? Kata tersebut adalah singkatan dari إي والله (Iy wallaahi), yang artinya "Iya demi Allaah". Dan ini adalah bahasa yang formal.  Contoh dalam percakapan :  أ : هل تذهب إلى مكة؟ ب : أيواه Orang Arab menyingkatnya ada yang bilang : -  إيوا (iywaa) - أيوا (aywaa) - أيواه (aywah) Faidah dari Ustadz Muhammad Rivaldy (Pendiri & Pengajar Pesantren Nashirus Sunnah Mesir)

Antara Al Muddatstsir dan Al Muzzammil

Penulis : Al Faqir Yusuf Apriono, ghafarallâhu 'alaihi wa ahlihi Kata dalam bahasa Arab yang juga menjadi nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Muddatstsir (المدثر) dan Al Muzzammil (المزمل) memiliki arti yang sama yakni orang yang berselimut. Adapun yang membedakan adalah bilamana Al Muddatstsir , dia adalah orang yang berselimut dikarenakan perasaan takut. Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa  asbabun nuzul  dari QS. Al Muddatstsir ayat 1 - 5 adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : Dari jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wasallam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu. Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit. Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira (malaikat Jibril - ...